Ayat-Ayat Cinta (Sebuah Resensi)

Hari ini entah mengapa kondisi tubuh masih terus naik dan turun. Malah siang hari sempat tertidur sejenak di ruang kerja karena perasaan pusing yang kelewat kuat.

Akhirnya pukul setengah 5, udah mulai tidak kuat dan akhirnya segera meninggalkan kantor. Kebetulan si ncuy juga “kena racun”, jadinya balik cepat…hehehe…

Namun…sambil berjalan menuju lift, kok tiba-tiba ada pikiran lain yah…kepikir untuk sedikit bersantai nonton film. Bolak-balik diskusi dengan ncuy, disepakati untuk nonton aja di Plaza Senayan, mumpung dekat dari kantor. Jadilah berjalan berdua ke Studio 21 Plaza Senayan.

Karena benar-benar tanpa perencanaan, di depan kasir masih bolak-balik diskusi, film mana saja yang akan ditonton. Akhirnya “Ayat-ayat Cinta” yang terpilih, dengan alasan sederhana..”waktunya paling dekat dengan jam nonton” :)

Sekilas info, novel Ayat-ayat cinta ini belum pernah saya baca, jadi pemikiran masih jernih dan tidak terkontaminasi dengan jalan ceritanya. Soalnya beberapa orang yang sudah membaca novelnya mengaku “kecewa” karena karakter yang ada di novel tidak terlalu mirip dengan film-nya.

Film dibuka dengan adegan seorang mahasiswa tingkat akhir dari Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar di Mesir bernama Fahri yang kebingungan karena komputernya rusak. Akhirnya dengan kebingungan dia meminta bantuan teman kuliahnya yang tinggal satu lantai diatasnya. Teman kuliah Fahri adalah seorang wanita yang bernama Maria, yang kebetulan beragama Kristen. Rupanya, diam-diam Maria mengagumi Fahri dan mulai mencintainya. Namun, kekaguman itu hanya diwujudkan dengan menulis pada diary dan selalu menyempatkan diri untuk memberikan jus mangga dan kue bolu kepada Fahri, utamanya kalau Fahri keasyikan belajar hingga lupa makan.

Dilain pihak, seorang rekan kuliah Fahri, yang merupakan anak seorang kyai terkenal, juga diam-diam menaruh hati kepadanya. Gadis ini bernama Nurul.

Wanita ketiga yang berkaitan dengan Fahri adalah Noura, yang merupakan tetangga Fahri namun mengalami nasib yang cukup menyedihkan. Dimana selalu memperoleh perlakukan buruk dari ayahnya.

Pada satu ketika, Noura ini disiksa oleh ayahnya dan disuruh tidur di luar. Karena tidak tahan, Fahri segera menelepon Maria dan meminta Maria menyelamatkan Noura dengan meminta Noura tidur di kamar Maria. Pada subuh hari, Fahri, Maria dan Noura ke rumah Nurul dan meminta agar Noura untuk sementara tinggal di rumah Nurul. Rupanya, Noura ini bukan anak kandung dari Bapaknya selama ini, dia adalah anak pungut. Dengan bantuan teman Fahri, Noura dapat dipertemukan dengan orang tua kandungnya. Pada acara syukuran, Noura jatuh hati kepada Fahri dan menyerahkan surat cinta kepada Fahri.

Wanita keempat adalah Aisha, seorang warganegara Jerman yang memeluk agama Islam dan bercadar. Pertemuan antara Fahri dengan Aisha dimulai dengan sebuah insiden di atas kereta api, dimana Fahri membela 2 orang warganegara Amerika yang memperoleh diskriminasi dari orang Arab yang mencoba untuk menghina mereka dengan ucapan Kafir dan lain-lain. Disini terjadi dialog yang cukup “indah”, dimana dengan fasih, Fahri menjabarkan ajaran Islam sebagai “Rahmatan lil Alamin.” Sayangnya, orang Arab tersebut tidak menerima dan memukul Fahri.

Pertemuan berikutnya antara Fahri dengan Aisha adalah saat Aisha menemani orang Amerika itu yang ternyata adalah wartawan yang sedang meneliti tentang Islam, dimana Fahri menjelaskan beberapa pertanyaan yang diajukan. Termasuk di dalamnya pertanyaan mengenai peranan wanita dalam Islam. Dimana Islam dalam keseharian itu menjunjung tinggi wanita. Dan pada saat wartawati itu menanyakan “mengapa Islam membolehkan suami memukul istrinya, bukankan itu membolehkan kekerasan dalam rumah tangga ?”

Fahri lalu menjawab, “memang dalam Surah An-Nisa hal itu disampaikan, namun ditegaskan bahwa hal tersebut dilakukan dengan syarat-syarat yang ketat, yaitu pelanggaran yang dilakukan sudah sangat parah dan dilaksanakan dengan 3 tingkatan, yaitu pertama adalah nasehat, kedua adalah teguran dan ketiga baru dengan pukulan. Pukulan juga tidak boleh ke arah muka dan tidak bertujuan untuk menyakiti.”

Dari pertemuan inilah, Aisha semakin tertarik dengan Fahri.

Di lain pihak, guru Fahri selalu mendesak Fahri untuk segera menikah dan pada akhirnya menyarankan “Ta’aruf” dengan seorang gadis yang ia pilihkan untuk Fahri.

Dengan hati berdebar, akhirnya Fahri setuju dengan permintaan gurunya dan akhirnya dipertemukan dengan wanita yang dicalonkan untuknya.

Rupanya….wanita tersebut adalah….Aisha….

Pernihakan segera dilaksanakan, dan hiduplah mereka dengan bahagia…………..

Pernihakan Fahri dengan Aisha

Loh…apakah selesai…belummmmmmmmmmm….ini masih 1/3 cerita…. :D

Dengan pernikahan Fahri dengan Aisha, maka hancurlah hati 3 wanita lainnya…

Nurul patah hati dengan menangis sejadi-jadinya…Maria yang sewaktu Fahri menikah sedang ke luar kota, setelah kembali dan mengetahui Fahri telah menikah mengalami depresi berat, sehingga Jantungnya terganggu dan darah mengalir dari hidungnya. Terlebih lagi, dia mengalami tabrak lari….Noura yang mengetahui berita tersebut menjadi amat sakit hati dan merencanakan hal yang buruk terhadap Fahri…

Setelah 1 bulan, maka badai mulai mendatangi pernikahan Fahri, dimana Aisha dihinggapi rasa cemburu dengan Maria dan Nurul dan yang terparah adalah ditangkapnya Fahri dengan tuduhan pemerkosaan terhadap Noura…

Di dalam penjara, ada sebuah dialog yang luar biasa dahsyat bagi saya…yaitu sebuah nasehat yang diberikan oleh seorang penghuni penjara yang menceritakan kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Pada nasehat ini, bergetar rasanya hati dan air mata menggenang… (mau tau nasehatnya, silakan nonton yah.. :D )

Dilain pihak, perjuangan Aisha untuk membebaskan suaminya juga menggetarkan hati. Termasuk ketika hendak menemuni Maria yamg merupakan saksi kunci kejadian tersebut. Namun, Maria mengalami koma yang diakibatkan Depresi berat karena ditinggal Fahri. Salah satu pengorbanan yang “luar biasa” adalah sewaktu Aisha memaksa Fahri menikahi Maria, karena Maria baru bisa sembuh apabila bertemu dengan Fahri. Kisah-kisah Aisha ini juga cukup memancing kesedihan, diperkuat dengan alasan-alasan yang amat rasional dan menggugah hati. Alangkah sedihnya seorang istri saat suaminya akad nikah dengan wanita lain di depannya…

Dengan hadirnya saksi kunci, yaitu Maria, walaupun di atas kursi roda, mematahkan tuduhan Noura, dan malah membuka informasi lainnya, bahwa ada orang lain yang memperkosa dia, bukannya Fahri, seperti yang dituduhkan…

Akhirnya Fahri bebas dari segala tuduhan dan dapat menghirup kebebasan lagi….

Nah…akhirnya selesai juga….eh..belummmmmmmm…ini masih 2/3 film :D

Cerita beralih saat Fahri mulai merajut kehidupan bersama kedua istrinya. Diperlihatkan bahwa memiliki 2 orang istri tidak seindah yang dibayangkan. Yang tersulit adalah bersifat “adil”

Saat-saat tertentu, terajut kecemburuan diantara istri-istri Fahri yang semakin lama semakin menggumpal, dimana memuncak dengan kepergian Aisha dari rumah.

Dalam salah satu perenungannya, akhirnya Fahri memperoleh pencerahan, bahwa yang hilang dari dirinya adalah rasa “ikhlas.” Hilangnya rasa itulah yang menyebabkan dia sulit untuk memberi rasa “adil” kepada kedua istrinya. Dengan rasa itulah akhirnya mereka berkumpul kembali.

Cerita kemudian berputar saat Fahri dan istrinya bersantai. Dimana Aisha mengalami kejang perut dan Maria mengalami pendarahan pada hidungnya yang diakibatkan penyakit Jantung yang dia derita.

Di akhir dihidupnya, Maria mengucapkan sebuah kalimat, “Akhirnya saya tahu bahwa cinta dan memiliki itu dua hal yang berbeda…”

Waduh…sedih bener adegan disini…se-bioskop pada sepi, cuman diselingi isak tangis sana-sini…

Apalagi sewaktu Maria minta shalat bersama…dan akhirnya pergi dalam kondisi shalat…

………………..

………………..

………………..

Inilah akhir film Ayat-ayat cinta…dan hanya film ini yang saya saksikan sendiri, setelah lampu menyala, semua penonton bertepuk tangan….

Kesimpulannya…kalau 20 jari saya jempol semua…saya acungkan semua deh :D

About these ads

37 Balasan ke Ayat-Ayat Cinta (Sebuah Resensi)

  1. Om Jack mengatakan:

    BESOKK NONTON AHH SIAPA MAU IKUT..

  2. 9november mengatakan:

    “Aku adalah Nill yang mencari segenggam pasir di negeri Mesir”,

    Anjrit bener, nonton ni pelem bnr2 kesiksa. kepengen nangis tapi ditahan, akhirnya jadi sesek napas.

    inilah satu2nya pelem cinta yang didalamnya TIDAK MENUNJUKAN KEROMANTISAN ALA SINETRON INDONESIA YANG PENUH KEPALSUAN.

    SEMPURNA.
    Tokoh [Aisha beautiful moeslim euy ...]
    Lagu dan musik [bikin buku kuduk merinding terutama lentingan nyanyian islam]
    Setting [perjodohan antara Nill dan Mesir]
    Cerita [saya kasih nilai 101, soalnya yang 100 buat Transformer :D ]
    Pesan Moral [hiduplah layaknya Nill dan Mesir]

    udah nonton ajah … !!!

  3. Pakde Jogja mengatakan:

    Waduh…… baru baca resensi n tulisan mas khalid… aku sudah ikutan nangis……!!
    Jadi gmana baiknya nich…? Ikutan nonton apa tidak…? Sebab kalo nonton pasti harus siapkan tempat untuk tampung air mata yang akan tumpah ruah di gedung bioskop…..! Kalo tdk nonton…. koq kayaknya, aku sdh termakan provokasi dan promosi mas khalid

  4. scooterboyz mengatakan:

    Hehehehe..
    Salam kenal mas..MAkasih udah kasi komen di saya,ini saya dateng gantian.. :D

    Saya kecewa dengan film ini,sebab sangat jauh melenceng dari bukunya dan bagian2 yang saya nantikan dari buku dan saya rasa bakal jadi bagian paling menarik di film ini banyak sekali yang tidak ada. JAdi saya merasa film ini “kosong”

    Perbedaan itu biasa.. :D

    Salam..

    OOT dikit,namanya keren Khalid Mustafa..Nama yang benar-benar jantan.. :D

  5. khalidmustafa mengatakan:

    @Om JACK, ikutttttttttttttttt……

    @9november, “Nil dan mesir adalah jodoh…tanpa nil maka mesir hanya menjadi sebuah padang pasir..” duh…begitu menyentuh…

    @PaKde, gak usah khawatir pakde….bawa ember masih cukup kok ;-)

    @scooterboyz, hehehe, makanya pada paragraf2 awal saya dah sebutkan “saya lom baca bukunya.” Jadi tidak ada pembanding apa-apa. Saya membandingkan film ini dengan sesama film Indonesia lain. Kalau masalah buku di filmkan sih saya setuju. Seeprti film Harry Potter Orde Of Phoenix yang mengecewakan, karena tidak seseru bukunya.
    Jadi, latar belakang pemandangan itu amat penting dalam memberikan sebuah resensi.
    Anyway, thx yah atas komentarnya…masalah nama, itu pinter2nya orang tua tuh :D

  6. GHIBRAN mengatakan:

    Wah…..baca resensi film dari kakak..jadi pengen nonton se-seru apakah film Ayat-ayat Cinta ????

    kira2 pantes gak ya….dapat piala CITRA ato OSCAR…. ????

  7. guls mengatakan:

    lah.. lah.., sebetulnya ini adalah sebuah resensi atau sebuah sinopsis? atau.. barangkali lebih tepatnya sebuah bocoran isi cerita suatu film? hahaha..

  8. Editor A&K mengatakan:

    Bagus sekali, terutama kesimpulan Anda!

  9. fuzzyonnet mengatakan:

    Setuju. Makanya bagi para pecinta novel ayat-ayat cinta, kalo mau nonton filmnya jangan membayangkan novelnya. jangan bandingkan novel and film. keduanya beda. dan menurut saya, kalau filmya sama persis sama novelnya malah ga bagus.

    p.s: He. he.. he.. he.. Saya belum nonton filmya. kalo novelnya udah apal. rencananya nonton hari kamis besok

  10. neorhazes mengatakan:

    ya allah, kasian amat fahrinya..
    (ane belon nonton ampe abis lagi)

    jadi mengharu-biru..
    keren juga scripter nya bikin alur macem begini…

  11. unda mengatakan:

    GItuuu dong….. khan itu buktinya kalau filem indonesia banyak juga yang bagus.. hehehe.. umar baru nonton lusa sama Mas Ali bersama Isteri beliau. heheehhe semoga bisa menikmati juga… thx pak info filemnya

  12. rudini86 mengatakan:

    walah…walah….ceritanya kok agak berbeda dng bukunya seh…sudah tereduksi deh kayaknya, ada prinsip-prinsip keislaman yg di cut pada film itu…..suer…cobe deh baca bukunya..bandingkan dengan filmnya, seharusnya kan sama? tapi….
    BTW…sy mengundang semuanya untuk berkunjung ke my blog di http://rudini86.wordpress.com

  13. asmirandah mengatakan:

    Ayat Ayat Cinta adalah satu-satunya novel yang aku baca cepet bangged. Sampe2 pas nyuci motor di tempat cucian motor novel itu tetep aku bawa dan aku baca.
    Aku sampe sms dan telpon penulis novelnya pas udah selesai baca.
    Air mata pun menetes saat baca novelnya, apalagi lihat filmnya yak??
    Baca resensi Pak Khalid jadi penasaran bangged pengen nonton filmnya. Insya Allah hari Sabtu deh….
    Kalo durasinya lebih dari 1,5 jam lebih berarti filmnya bagus. Karena rata-rata durasi film Indonesia adalah max 1,5 jam.
    Pokoknya aku salut deh sama yang punya ide buat cerita Ayat Ayat Cinta….

  14. haidarrein mengatakan:

    baru saja kemarin saya nonton aac. sebetulnya saya belum pernah baca sekalipun novelnya yang katanya sejak tahun 2004, tiap bulan cetak ulang.
    dan memang banyak yg mengatakan ( khususnya dr kalangan aktivis islam ya ) bahwa cerita di film tidak seislami di novel, bahkan di film terlalu picisan, dllllllllllllll

    tp kalau boleh saya memberi komentar, film itu sedikit banyak memberitahukan kepada khalayak umum , mengenai segala hal yang selama ini dipertanyakan atau dianggap “tidak jelas” dalam pandangan islam. maksud saya begini: baru kali ini ada film islami yang menggambarkan bahwa seorang pria muslim tidak bersentuhan tangan (palagi salaman ) dengan wanita non muslim, bagaimana hubungan pertemanan antara fahri dan maria yg nota bene seorang wanita kristen ( toh mereka berteman kan????? fahri itu ceritanya seorang ikhwan loh ), bagaimana proses taaruf yangs elama ini kurang diketahui sebagian orang ( yang tahunya cuma pacarannnnnnn aja), bagaimana hati seorang wanita berkerudung( bahkan bercadar) jika sedang dilanda api cinta dan kecemburuan…..semua jelas tergambar.

    selama ini kita kan hanya menelan kisah cinta picisan ala sinetron di tv

    aac adalah salah satu film islami pertama yg tidak bicara agama melulu, dakwah melulu, aktivis mesjid melulu, tapi lebih kepada sisi kemanusiaan seseorang ketika berhadapan dengan fitrahnya dan diarahkan dalam syariah islam yang sudah seharusnya.

    jatuh cinta?
    dilanda asmara?
    api cemburu?
    poligami?
    naksir2an gaya aktivis mesjid?
    menatap wajahnya?
    cadar?
    jilbab?
    pacaran eh taaruf?

    SEMUA JAWABANNYA ADA DI AAC…….

  15. Rushley mengatakan:

    hhmmm…. numpang ngasih pendapat neh pak…!!!

    menurut saya klu fahri itu memperlihatkan sosok kemunafikan seorang pria yang merasa dirinya sempurna, makanya waktu dia di penjara dia sangat tidak menerimanya… dia bahkan sempat mengatakan “mengapa Allah begitu tega dengan saya”. dari situ saya mengambil kesimpulan klu selama ini dia telah merasa dirinya sangat sempurnah. dan kesombongannya adalah dia sama skali tidak membalas surat yg dia terima.
    tidak ada salahnya klu kita membalsa surat dari orang lain walaupun itu berisi sebuah penolakan, setidaknyakan kita tidak memberikannya lagi harapan dari pada kita hanya menyimpannya dan sama skali tidak membacanya dan pasti orang yg memberikan surat itu akan selalu menunggu balasannya klu memang dia sangat berharap.
    but aku kagum dia bisa berbuat adil ama de-2 istrinya…!!! hehehehehehehehe

    mayan lah filmnya pak walaupun saat pertama nonton tidak langsaung ikutin smua jalan ceritanya. hehehehehehehehehe

  16. aristorahadi mengatakan:

    wah pak khalid bisa romantis juga rupanya. mbaca resensinya terasa udah nonton filmnya. tengkyu pak.

  17. zulfaisalputera mengatakan:

    Aku baru bisa nonton hari Senin ini, Mas, bareng siswa-siswaku. Semuanya 35 orang. Mereka sudah baca novelnya, maka aku wajibkan buat nonton filmnya.

    Oke, ntar gantian aku yang beri komentar setelah liat filmnya.

    tabik!

  18. danummurik mengatakan:

    Satu hal yang perlu diperhatikan, kita jangan terjebak bahwa alur film sama dengan isi novel. Yang perlu diperhatikan kemampuan sutradara menghidupkan film dari novel ayat-ayat Cinta.
    Nah dengan membaca novel dan menonton filmnya, kita jadi mengetahui siapa yang tangguh, penulis novel atau sutradara film? Khusus Ayat-Ayat Cinta, apakah Habiburrahman El Shirazy sebagai penulis novel atau Hanung Bramantyo sang Sutradara. Jadi marilah kita saksikan keduanya, dengan membaca novel dan nonton filmnya. Syukur kita bisa membeli yang bukan bajakan. he…he… selanjutnya silahkan baca di weblog saya http://danummurik.wordpress.com

  19. anton mengatakan:

    jadi laki-laki kok sensitif kaya perempuaaan aja, malu aaahh nonton film dramaaa hooeeekkk hoeekkk hoeekkk

  20. khalidmustafa mengatakan:

    hahaha…inilah yang namanya mengingkari kodrat sebagai manusia. Setiap manusia punya rasa bahagia, rasa sedih, rasa takut dan berbagai macam rasa yang lain.

    Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah pada segi fisik dan naluri. Tidak pernah ada aturan bahwa laki-laki tidak boleh sensitif dan sensitifisme hanya milik perempuan.

    Laki-laki yang tidak sensitif akan kehilangan “nalar”nya, karena tanpa sensitif pada lingkungan, maka setiap perbuatan yang dilakukan tidak akan mempertimbangkan aspek-aspek diluar dirinya, dan akan menjadikan rasa ego sebagai penuntun langkahnya. :-)

    Masalah film, kembali ke selera masing-masing kok. Dan mungkin lebih baik mengungkapkan alasan mengapa tidak suka daripada sekedar menghakimi tanpa alasan ;-)

  21. annawawi mengatakan:

    hapal betul neh critanya….

  22. ayat ayat cinta mengatakan:

    [...] membahas film ini, karena sudah banyak yang melakukan review. baca saja ulasan scooter,  hasan,  khalid, deteksi, julia, david, dan banyak lagi, juga dibeberapa web resensi film seperti ruangfilm dan [...]

  23. khalidmustafa mengatakan:

    @annawawi, gimana tidak hapal, lha nulis blognya langsung setelah tiba dirumah dari nonton filmnya…skrg juga udah nonton 3 kali :-D

  24. BoenDa mengatakan:

    @Roesly
    Ketrpurukan,kgelisahan,kekalutan tdklah sama dgn kmunafikan…bahwa mns mrs tdk adil,pts asa,dsb adalah smbol tak ada mns yg smpurna..tp jstru itulah yg mmbuat mns tmpak sbg mkhlk Tuhan yg smpurna..bhwa ada dualisme si2_ SaLah&Benar

  25. BoenDa mengatakan:

    Cerita AAC its Okay..!
    Ak se7 crt&krkter tkh novel sdkt byk dibedain u/ filmñ..krn jstru surprise trsndiri bwt para pmbaca novel
    Alangkah indahñ jika bhs yg dignakan di AAC adlh bhs mesir/arabñ,coz lbh mmbawa kta ke setting kairo,Coz settingñ trksan maksa

  26. simple mengatakan:

    wadew…

    sayang bajakannya beredar duluan ><

  27. deandamutzzz mengatakan:

    Emanx film yg bersutradara mas hanung bnr2 t0p sampe2 tmn q ja nangis’yg isak bgtzzz,,,q pling ska yg jdi maria’y c0z se0rang kristen k0ptik ja hfal surat al-maidah n maryam,keren bgtzzz n jga AAC T0P ABIESZZZ

  28. moumtaza mengatakan:

    Hhmm, tadi pagi, saya sengaja nulis resensi versi saya yang sudah baca (berulang-ulang) novelnya, dan saya kecewa setelah nonton filmnya, meskipun tidak sampai protes.
    Kecewa, karena saya berharap terlalu banyak …
    silakan ke moumtaza.wordpress.com
    salaam

  29. wiwienwintarto mengatakan:

    wah, seru juga ya filmnya? saya juga nonton bareng temen cewek saya. so silakan baca opini saya ttg A2C di blog saya untuk mengetahui pandangan lain yang tak terduga2 soal film ini.
    betewe, saya nggak menangis pas nonton. dan demikian pula dengan teman cewek saya itu. kami malah sama2 seringkali bingung dan nggak mengerti serta geli… bukannya sedih…
    oya, salam kenal deh dari semarang!

  30. Rin-ren mengatakan:

    Saya juga udah nonoton filmnya, walaupun cowok saya bisa juga terharu melihat film tersebut. Tapi ada beberapa kesalahan fatal yang berlebihan difilm tersebut, contohnya sakit jantungnya maria….

    Menurut teman cewek saya, yang pernah didiagnosa memiliki sakit jantung bawaan sejak lahir, dia selama ini ngak pernah keluar darah dari hidungnya. Menurutnya hal tersebut terlalu didramatisir…. Kecuali dia juga sakit leukimia, mungkin darahnya bisa keluar dari hidung….

  31. azis mengatakan:

    film ini nggak jauh dari film film Sindhu darma , tak ada yang istimewa,penonton terbawa
    emosional tradisionil yang merupakan karakter indonesian people.

  32. ruben mengatakan:

    saya udah nonton. dan saya mutusin untuk ga baca bukunya. saya yakin saya bakalan kecewa. lagian, mas hanung bramantyo mgkin udh mutusin untuk ngambil bag percintaannya (lagian, bnk ko org yg suka dgn film bertema percintaan). memang ad beberapa kekurangan, tp emg ga ada yg sempurna kan? santai saja. lagipula, msh bnyak kelebihan dlm film ini. ko bnyak yg hny menyorot kekuranganya saja. tp toh, mengecewakan atau tidak, sudah lbh dr 2 juta org yg menonton. entah nonton pertama kali atau yg kesekian kali. saya sih ga bakal bilang kecewa sm filmnya, filmnya bagus ko, ga ky film2 kbanyakan, kritik aja film2 horror yg ga masuk akal.

  33. Abu Saqila mengatakan:

    saya berharap busana artis AAC bukan di film saja

  34. Ronny mengatakan:

    Kayaknya, saya termasuk org yg telat nonton AAC nih …. :)

    Kesimpulan saya sih, filmnya emang beda. Apalg pas dialog dlm penjara, maupun pada saat kemelut pengambilan keputusan untuk menikahi Maria. Lumayan, bikin mata berkaca-kaca. Untung gak sampe nangis…… :D Malu ame temen2 lain yg nonton…..

    Terlepas dari komentar rekan2 di atas, yg menurut sya udah ckup mewakili pemikiran kita semua, klo saya sih, lebih suka film ini dijadikan cermin untuk introspeksi diri. Yah, minimal utk saya sndiri. Bisakah untuk ikhlas dan sabar? Teorinya mudah…… Sebagaimana yg banyak terdapat dlm dialog didalam penjara maupun dialog antara Fahri dan Aiisha mengenai Maria. Ternyata, prakteknya, kadang sulitnya minta ampun deh. Apalg klo sdh harus berurusan ama masyarakat, yg punya tingkat pendidikan tdk sama.

    So, bagi saya :
    1. Innallooha ma’ash shoobiriin.
    2. Fa inna ma’al usri yusra’. Inna ma’al usri yusra… (bayangkan, ampe diulang 2x tuh)
    3. Sesungguhnya hidup itu masalah. Hadapilah. Namun, bila suatu saat kau merasa terlalu berat untuk menghadapinya, menghindarlah sejenak, utk dpt menghadapinya kembali.
    4. Let your life flows like the water.

    Salam………..

  35. s13d1q mengatakan:

    kak bisa minta resensinya gak resensi ayat ayat cinta klo bisa tolong kirim ke abdurahmansidiq@yahoo.co.id

  36. Yulvikar mengatakan:

    Saya juga sependapat dg mas. Banyak hikmah yg terkandung dalam novel “ayat2 cinta” karangan abdurrahman el shirazi, bukan dalam film layar lebar nya lo mas. Jadi kalo mas terinspirasi ama novel ato film nya?

  37. Barang Prormosi mengatakan:

    Lagi nonton film ini di SCTV, baca bocoran cerita di sini

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: