Sampahku…Tiketku…

Suatu pagi di tahun 2000, dimana suasana masih terasa dingin, saya memasuki halaman sebuah sekolah di Jalan Tala’ Salapang Makassar.

Setelah menyimpan motor Yamaha Biru tahun 75 saya di tempat parkir khusus guru, dan membuka jaket, saya kemudian menuju halaman depan sekolah.

Dalam hati, ada sedikit rasa heran, melihat siswa sekolah ini tidak langsung memasuki halaman dalam sekolah, namun beberapa berputar-putar pada halaman depan sambil menunduk untuk melihat sesuatu di tanah.

Rasa heran itu semakin bertambah, melihat kepala sekolah duduk pada pintu penghubung antara halaman luar dengan halaman dalam sekolah dan di depan beliau ada sebuah keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu.

Dengan senyum khas, beliau langsung menyambut saya.

“Selamat pagi pak Khalid, bagaimana kabar hari ini ?” Sambil memperbaiki kopiah haji yang beliau kenakan.

“Baik pak, sehat selalu dan aman terkendali” jawab saya sambil tersenyum dan berdiri disamping kursi beliau sambil melirik heran pada keranjang di depan beliau saat itu.

Melihat arah pandangan saya, beliau rupanya tahu bahwa saya merasa tertarik dengan apa yang dilakukannya. Langsung saya beliau memberi penjelasan.

“Merasa heran pak Khalid dengan keranjang ini ? Ini tempat tiket masuk.”

“Tiket ? Maksudnya pak ??” Sambil saya melongo melihat keranjang sebesar itu. Selain tidak melihat selembarpun tiket di dalamnya, saya juga membayangkan berapa banyak tiket parkir motor atau tiket bioskop yang bisa ditampung di dalam keranjang itu.

Sambil tertawa, beliau langsung meneriaki seorang siswa yang kebetulan berada di dekat situ.

“Hey..Kamu ! Mana tiketnya. Kalau mau masuk sekolah, masukkan tiket disini. Cepat !”

Dengan patuh, siswa berseragam hijau-hijau itu datang mendekat. Ditangan kanannya tergenggam sejumput rumput dan selembar robekan kertas koran.

Setelah tiba di depan Kepala Sekolah, dia lalu memasukkan rumput dan potongan tersebut ke dalam keranjang yang berada di depan kepala sekolah.

Sambil tersenyum, kepala sekolah tersebut lalu menjelaskan, “Nah, inilah tiket yang saya maksud pak Khalid.”

“Sampah, pak ?”

“Iya, sampah”

“Untuk apa pak ? Khan ada petugas kebersihan atau bujang sekolah yang biasanya membersihkan sekolah khan ?”

Dengan tetap tersenyum, beliau kemudian menjelaskan.

“Pak Khalid, kami ini sekolah swasta. Sekolah ini tidak memperoleh dana apapun dari pemerintah. Seluruh operasional sekolah dibiayai oleh siswa-siswa. Termasuk gaji guru, biaya operasional praktek dan lain-lain. Itu juga banyak siswa yang menunggak membayar. Karena seperti pak Khalid sudah tahu, bahwa kebanyakan siswa STM itu dari kalangan bawah yang penghasilan orang tuanya pas-pasan.”

Saya manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Kemudian beliau melanjutkan.

“Nah, kalau dana yang terbatas itu kami pakai lagi untuk menggaji petugas kebersihan sekolah, pasti tidak akan cukup. Oleh sebab itu, setiap pagi dan siang, saya meminta siswa sendiri yang membersihkan sekolah ini. Jadi tidak perlu lagi menggaji petugas kebersihan.”

“Trus, kok pakai acara tiket-tiket segala pak ?” tanya saya…

“Setiap pagi, kami minta siswa untuk mencari sampah di halaman sekolah atau pada halaman di luar pagar sekolah. Trus, sampah tersebut mereka harus masukkan dalam keranjang di depan saya ini. Tanpa sampah yang mereka masukkan, mereka tidak bisa masuk ke halaman sekolah. Selanjutnya, sebelum pulang sekolah, mereka juga diminta untuk mencari sampah di dalam halaman sekolah dan di dalam ruang kelas masing-masing. Tanpa sampah tersebut, mereka tidak bisa keluar dari gerbang sekolah.
Nah, karena mirip tiket, makanya kami sampaikan bahwa ini adalah tiket masuk dan keluar sekolah.”

Saya tersenyum lebar mendengar cara ini dan dalam hati amat setuju dengan teknik “tiket” yang diterapkan.

Kemudian beliau menambahkan,

“Satu lagi pak Khalid, kalau cara ini dibiasakan selama 3 tahun terus menerus, maka mereka akan terbina untuk selalu menjaga kebersihan. Mereka akan merasa risih melihat sampah di depannya dan akan tergerak untuk mengambil dan memasukkan ke dalam tempat sampah terdekat. Juga bagi sekolah, mereka akan diajarkan untuk bersifat bersih dan rapi serta menanamkan rasa memiliki kepada sekolah.”

Akhirnya saya paham atas maksud beliau, dan dalam hati membenarkan konsep ini…

Sambil terus tersenyum, saya menanamkan dalam hati bahwa konsep ini akan saya terapkan apabila suatu saat memiliki sekolah sendiri (Dan memang akhirnya saya terapkan di SMK Tri Tunggal 45 Makassar).

Akhirnya saya berlalu dari tempat tersebut menuju ruang lab. komputer untuk bersiap mengajar. Dimana di halaman luar sudah mulai banyak siswa yang antri untuk masuk ke dalam halaman sekolah dengan “tiket” di tangan mereka.

Tikeeetttt….tikeeettttttttttttttttt……

(Tulisan ini saya buat untuk mengingat Almarhum H.M.Rasyid Paduk, Kepala STM Panca Marga Makassar, yang menginspirasi dengan pelajaran ini)

Iklan

4 Responses to Sampahku…Tiketku…

  1. Unda RamUmar berkata:

    hahahaha… sepertinya ceritanya kenal dech… GUE… banget tuch… thx any way’…

  2. Unda RamUmar berkata:

    Tunggguuuuuuuuu… Pak H.M. Rasyud Paduk meninggal yah pak .? kapan .? di mana .? kok ngak tahu yah… :(( turut berduka cita. semoga amal dan ibadahnya beliau di terima disisi2 Allah.

  3. Nasrun berkata:

    hahahh…

    Jadi ngingatin nech, waktu STM doloee…. (Kebetulan, sy salah satu siswa yang harus pake tiket tuk masuk sekolah).

  4. steven makassar berkata:

    m`siang ka begini saya mau tnya, ka baru-baru ini komputer saya terkna virus dan lebi gila lagi vris itu menyebar kesemua folder dan program komp aku, virus itu juga bisa membuat file2 aku membela diri sendiri,ka tlg dong bagaimna cara mnghpus virus itu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: