Metode “Kampungan” Pemelajaran Bahasa Inggris

WI LPMP Semarang dan Pak BagionoKemarin (Sabtu, 26 Januari 2008), bertempat di ruang makan Bima Hall VEDC Malang saya berdiskusi santai sambil menikmati sarapan pagi dengan pak Bagiono dan Widyaiswara LPMP Jawa Tengah.

Judul di atas dimulai dengan ucapan dari Pak Bagiono, “Saya pernah berkata kepada sebuah PPPG, bahwa proses pemelajaran Bahasa Inggris yang saat ini dilaksanakan akan sulit menuai hasil yang baik.”

Sambil tetap menikmati sarapan, saya kemudian bertanya, “kok bisa demikian pak ?”

“Lha karena sejak awal, anak-anak sudah diajarin berbagai macam, seperti grammar, menulis, dan lain-lain, alasannya adalah ‘ini bahasa Inggris special purpose‘,”

Dengan semangat, beliau kembali melanjutkan, “Special Purpose apaan, yang tidak spesial saja susah dilihat keberhasilannya.”

Sambil mengangguk-angguk dan tetap menikmati mie goreng sebagai sarapan pagi itu, saya mendengarkan beliau melanjutkan berbicara.

“Mereka seharusnya belajar dari pengalaman, sudah bertahun-tahun proses pendidikan Bahasa Inggris seperti itu dilakukan, namun tidak ada hasilnya. Mereka harus milihat bagaimana alam mendidik.”

“Alam mendidik pak ?” tanya saya sambil terbengong…

“Iyah, coba lihat, anak Afrika yang lahir dan besar di Prancis, bisa berbicara Bahasa Prancis yang baik walaupun belum benar dan tidak bisa menulis serta grammar Bahasa Prancis. Anak Jepang yang besar di Jogja, bisa berbahasa Jawa, walaupun tidak bisa menulis huruf Jawa. Malah, ada orang prancis yang anak-anaknya lahir di Bandung, anak-anak tersebut bisa berbahasa Sunda.”

“Lah, khan emang sudah seharusnya gitu pak…”

Sambil bersandar dengan santai, beliau kemudian melanjutkan, “Pada tahun 60-an, sewaktu saya pertama kali ke Prancis, saya tidak tahu sama sekali berbahasaPrancis. Namun, setelah 3 minggu pelatihan dan saya makan di sebuah restoran, saya mendengar meja sebelah memesan makanan, dan saya tersentak, kok saya ngerti yah apa yang dia ucapkan. Kemudian, saat pelayan mendatangi saya untuk menawarkan makanan dan minuman, kok saya bisa mengerti dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Padahal sebelumnya saya tidak tahu sama sekali.”

Sambil bersandar pada kursinya, beliau kemudian melanjutkan, “Rupanya karena metode yang digunakan dalam proses pelatihan tersebut adalah metode kampungan.”

Berikut ini saya mencoba menuliskan apa yang dimaksud dengan metode “kampungan” tersebut dari bahasa saya.

Kalau kita melihat contoh-contoh yang telah dipaparkan oleh Pak Bagiono di atas, terlihat bahwa berbahasa adalah suatu hal yang mendasar. Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sudah menjadi sesuatu hal yang sejak awal telah ditetapkan.
Seorang anak, yang sejak kecil dibesarkan dalam sebuah budaya berbahasa setempat, tidak diajarkan menulis ataupun tata bahasa terlebih dahulu. Yang diajarkan adalah metode untuk berkomunikasi dengan bahasa itu.

Bukankah tujuan utama bahasa adalah untuk berkomunikasi ?

Setelah bisa berkomunikasi, walaupun dengan kosa kata yang terbatas, barulah masuk kepada tahapan selanjutnya, yaitu tahapan belajar menulis dan tata bahasa.

Kalau kita perhatikan lebih jauh, pola belajar ini menggunakan sebuah pola yang sama di seluruh dunia, yaitu pola listen and repeat, dimana sejak dini seseorang dilatih untuk mendengarkan sebuah kata dan mengulangi mengucapkan kata tersebut hingga di luar kepala.

Polanya adalah, seorang guru akan mengajarkan beberapa kosa kata dalam bentuk percakapan singkat kepada seluruh siswanya. Pada awalnya, guru meminta siswa mendengarkan setiap kalimat, kemudian meminta seluruh siswa untuk mengulangi kalimat tersebut hingga fasih dan lancar. Setiap kalimat akan terus diulang dan diulang, hingga siswa menjadi fasih dalam mengucapkan dan memahami artinya.

Setiap pertemuan akan membahas kalimat yang berbeda, dimana semakin hari, tingkat kopleksitas kalimat yang diberikan juga semakin tinggi.

Setelah beberapa bulan, maka kalimat-kalimat yang telah diberikan akan menjadi sebuah “kebiasaan” bagi seluruh siswa, sehingga sewaktu mereka berkomunikasi, maka secara refleks mereka akan menanggapi komunikasi tersebut melalui kosa kata dan kalimat yang telah mereka latih.

Setelah mereka lancar dalam berkomunikasi secara lisan, barulah diajarkan tata bahasa dan cara untuk menulis dalam bahasa Inggris.

Mengapa disebut kampungan ? Karena metode ini adalah metode awal yang digunakan oleh umat manusia dalam belajar berkomunikasi dan selalu dianggap terbelakang dari seluruh metode-metode lainnya.

Mari, kembalikan pelajaran bahasa Inggris kepada belajar berkomunikasi, bukan belajar “menghayal” untuk bisa berbahasa Inggris…

Iklan

26 Responses to Metode “Kampungan” Pemelajaran Bahasa Inggris

  1. Rudini berkata:

    Nah….sepertinya metode ini harus diterapkan di beberapa kampus di indonesoia (contoh: Unhas) karena berangkat dari kenyataan yang memilukan yakni, lagi-lagi mahsiswa unhas banyak yang lulus TOEIC tapi mereka ada yang bahkan tidak bisa speach…!!! Ironis bukan?? nilai 500 point tapi nggak bisa bicara…..

  2. Rudini berkata:

    bener tuh pak!! buktinya unhas yang punya mahasiswa tkj semua lulus ujian bhs. inggris dan mendapat nilai TOEIC di atas 400 point, tp ada yang kagak bisa speac in english sama sekali….narsis bro!!!

  3. budi berkata:

    wah bagus juga tuh tapi metode itu kiranya sesuai dengan kurikulum yang di berlakukan apa g ya? pa kalau emang bertentangan kurikulumnya aja ya yang di sesuaikan sama metode2 tersebut hi hi hi hi… 🙂

  4. Abi berkata:

    itu yang dari LPMP Jawa Tengah, Namanya Dr. Mulyadi H.P,

  5. oppung berkata:

    idiih … obrolan sambil sarapan ‘koq’ dimuat … ‘malu-maluin aja’ …

    itu kan BERTENTANGAN dengan metode ILMIAH yang dianut kawan-kawan para ahli bahasa …

    sayang ada kawan-kawan dari SMKN 3 mataram yang ‘mbalelo’. mereka menerapkan metode tsb di kelas TKJ, eeeh ,.. 7 bulan kemudian saya datang dan ajak para siswa ‘ngobrol’ … dengan santai mereka menjawab berbagai pertanyaan saya, dan bahkan beberapa orang ada yang berani mengajukan pertanyaan. hebaaat! ‘so’ pasti dengan kosakata terbatas …

    hahaha ….
    salam,

    oppung

  6. khalidmustafa berkata:

    Waduh…pemilik fotonya beri komentar juga…jadi malu 🙂

    Makasih banyak pak, sarapan pagi yang penuh makna tuh, jadi penting dibagi kepada yang lain…

  7. Ehm, spesifiknya kita harus memakai teknik apa agar tidak dicap kampungan, ya ? Aku kurang mengerti poinnya. 😕

  8. khalidmustafa berkata:

    Spesifiknya, dijalanin aja 🙂

    Walaupun tetap di cap kampungan, asal hasilnya bagus, tetap dijalankan saja.

  9. Jaha Nababan berkata:

    Ini bukan metode kampungan. Metode itu juga dipelajari pada study pengajaran bahasa dalam konteks guru tidak mengerti bahasa murid, sementara murid tidak mengerti sama sekali bahasa yang diajarkan. Sayang saya lupa keyword untuk study ini. Saya tahu metode ini ketika diskusi dengan teman yang sekolah di IOWA state univ. Setahu saya metode yang rada mirip dengan yang Pak Khalid jelaskan dipakai di LBLIA Yayasan LIA. Metode ini menurut LBLIA adalah metode naturalis.

  10. Gyl berkata:

    Hmm… memang perasaan bahasa itu paling baik diajarkan dengan “kebiasaan”

  11. abiehakim berkata:

    Pagi pak…bahasa inggris ya?ehmmmm…kata pak dosen bisa bhs inggris tuh biasa, bisa bahasa jepang..wah boleh tuh, bisa bahasa mandarin…nah ini hebat pak…bisa bahasa indonesia dengan baik dan benar…sudah belum ya? salam kenal dari saya pak.

  12. Cahyo berkata:

    Yang bapak kemukakan sama dengan yang saya pikir dan rasakan Pak. Dari dulu saya berfikir kok saya bisa ngomong itu ya… saya kaji lagi teryata karena lingkungan kita menggunakan bahasa itu. Jadi untuk itu kurikulum bahasa inggris kita harus sedikit berubah dengan dimulai dari percakapan sehari-hari, tidak hanya duduk dikelas mendengarkan guru kemudian menulis. Disini perlu juga dipertanyakan kemampuan komunikasi guru bahasa inggrisnya. Jika komukasinya bagus, metode ini akan sangat menarik bagi siswa yang mengikuti pembelajaran. Bisa dibayangkan jika gurunya sudah “killer” mengajar, anak didik jadi takut untuk belajar apalagi berkomunikasi. Satu lagi pak, semua bahasa itu suci yang membuat tidak suci adalah dialek, jadi kebayang kalau ngomong bahasa inggris dialek jawa.

  13. dindaani berkata:

    se7 banget, saya mulai mengajar dengan bahasa inggris, walaupun baru opening dan closing, dan saya sering tertawa bareng anak2 ketika mereka tahu saya salah, yang notabene meraka lebih pinter speaking english ketimbang saya yang dah mulai lupa gramer dan segala aturan, tapi ternyata nyambung juga mereka tahu apa yang saya mau, dan ketika mereka bertanya must in english, hasilnya saya ngerti maksudnya meski ga tahu arti yang bener. semua saya lakukan karena sebuah prinsip, if you can dreams, u can do and get it. dan widyaiswara bahasa inggris saya waktu prajabatan bilang komunikasi dua arah berhasil manakala kedua belah pihak saling mengetahui apa yang dimaksud lawan bicaranya.
    (meski ga tahu aturan yang penting nyambung hehehehehe)

  14. herman1986 berkata:

    Medote yang seperti diatas telah kami lakukan sejak tahun 2002 di SMKN 1 Pinrang dimana kala itu kami berinisiatif menggalang teman-teman untuk mampu berbahasa inggris dengan metode perkampungan bahasa Inggris dan hal itu berhasil dan sampai saat ini metode seperti itu tetap kami galang, hal itu terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang sangat besar dalam benak kami, Kenapa Kami bisa Berbahasa BUGIS padahal kami tidak pernah diajar bahasa BUGIS, dari pertanyaan dia atas muncul sebuah kesimpulan ternyata itu adalah suatu kebiasan, baik kebiasaan mendengar maupun kebiasaan praktek. (Listening and Action).

  15. Farah berkata:

    Menarik skli topikx, Pak… Sy trtarik dg istilah “Alam mendidik” He’s absolutely right! Para peneliti bahasa sdh lama mmperdebatkan masalah ini. Memang, pada prinsipx bahasa apapun itu lbih mudah diserap pada saat kita berada dalam lingkungan dmana bahasa itu digunakan. Contohnya, sejauh yg sy amati selama dsni (?), teman2 yg mmbawa serta anak2 mereka selama tugas belajar dan dititipkan di child care setempat dalam jangka waktu 3 bulan ke atas sdh mampu menyerap bahasa Inggris dan alhamdulillah mereka dapat berkomunikasi lumayan fasih.
    Satu hal yg kian menjamur d negara kita adl perekrutan tenaga pengajar dari luar negeri (native speakers) dengan alasan mereka jauh lebih representative dibanding guru bahasa asing dalam negeri. Sebenarx ingin menyertakan teori2 pendukungx tp pasti trllu panjang 🙂 Tp yg pasti banyak bukti kuat yg menyatakan bahwa guru2 dalam negeri tidak kalah unggulnya dibanding native speaker. Salah satu alasannya adalah karena mereka pernah belajar bahasa asing juga, sehingga mereka bisa belajar dr pengalaman mereka untuk kemudian diaplikasikan selama proses belajar mengajar. Sekarang adalah tugas para guru2 kita untuk lebih membekali diri n belajar lbih banyak lgi Metode apapun itu selama sesuai dg minat siswa dan tidak menyalahi tujuan pemelajaran sah2 sj diterapkan. Be innovative!

  16. hmcahyo berkata:

    emang… nggak ada ceritanya belajar bahasa apapun dimulai dari tata bahasa.. jadinya ruwet kawayk siswa di indonesia yang belajar dari SD _ SMU pas kuliah nggak bisa bahsa inggris.. cuma bisa apal rumus-rumus past, present dan future… payah yah 🙂 habis belajarnya dikejar target dapat nilai UAN yang tinggi.. ya gitu hasilnya 😦

  17. Mustafa (Tope) berkata:

    Mas Khalid, terima kasih tulisannya Saya teringat ketika ngobrol dengan Pak Bag dalam perjalanan ke Sorong. Jika rekan-rekan pengajar memadukan pola ini (Iam not going to call it as “Kampungan”. SAya ingin memberinya nama Metode Inspiratif), maka siswa kita akan dapat mengembangkan bahasanya.

    Saya biasa menyebutnya dengan siswa saya dengan Metode Pembentukan Kalimat.

    Mari kita berinovasi dan mengembangkan kemampuan bahasa kita. Saya challenge dalam tahap awal ini teman-teman guru. Siswa sudah banyak yang berhasil, namun masih banyak rekan guru yang harus tertantang akan hal ini.

    Salam dari Makassar

  18. Dian wahyu A berkata:

    subhanallah
    hanya pengen ngisi komen aja pak
    TP belajar bahasa itu tak bisa dipaksa jade dia harus belajar seperti layaknya air sehingga dia mampu untuk menerima sari dari sebuah bahasa menjadikan sebuah kebiasaan dalam berbahasa dan bertutur kata bisa membuat nya jadi bisa berkomunikasi yg sebelumnya lom di kenal mungkin metode itu bener bisa menggena di hati yg ingin belajar bahasa lain …. Salam Satu Jiwa VEDC AREMA MALANG

  19. bee berkata:

    Setuju sama pak Bagiono. Pemikiran2 beliau memang brilian, bukan hanya masalah ini saja, tapi juga di bidang2 lain. Wawasan dan pengalaman beliau yg sangat banyak juga mengagumkan. Saya salah satu pengagum beliau. 🙂

    Apa yg disebut metode kampungan itu juga secara “gak sengaja” saya pake di dunia internet, untuk membaca dan menulis. Berawal sekedar dari baca blog2 berbahasa inggris, dan ikut milis2 berbahasa inggris. Awalnya gak ngerti, dan ribut buka kamus kanan-kiri. Tapi, lama2 secara alamiah saya bisa memahami dan mulai belajar menulis sendiri. Bukan berdasarkan aturan2 grammar dan tetek bengek lainnya yg rumit, tapi cuman berdasarkan kebiasaan dari apa yg sering saya baca di blog dan imel di milis.

    Saya juga jadi paham bahwa konsep dasar dan paling awal dari proses belajar bahasa (dan komunikasi) adalah listen and repeat (untuk verbal) atau read and repeat (untuk tekstual). Itu juga yg saya liat bgmana anak kecil (balita) belajar berkomunikasi. 🙂

  20. vizon berkata:

    Menurut saya, bahasa adalah “keterampilan” bukan “pengetahuan”. Oleh karenanya, dia harus sering “dilatihkan” bukan “diajarkan”.

    Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia, karena barangkali hanya kita yang memiliki kemampuan berbahasa “lebih” dari bangsa lain. Coba saja perhatikan, minimal setiap orang di Indonesia memiliki kemampuan 2 bahasa; bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Belum lagi bila satu keluarga terdiri dari beberapa etnis, misalnya Ibu Sunda, ayah Minang, pembantu Jawa. Bisa dipastikan anak yang lahir dari keluarga ini akan memiliki kemampuan 3 bahasa daerah tersebut, minimal memahaminya.

    Hal ini menunjukkan bahwa, bahasa tersebut dilatihkan bukan diajarkan oleh keluarga tersebut kepada sang anak. Dan saya sepakat dengan konsep pengajaran bahasa ala “kampungan” ini, karena saya pernah mengalami pembelajaran seperti ini, sehingga sampai saat ini saya cukup rasakan manfaatnya.

    Artikel ini menginspirasi, terima kasih. Mari kita tetap membiarkan “alam mendidik”… 🙂

    Salam kenal…

  21. aji berkata:

    mohon pencerahannya sekali lagi pak, saya guru bahasa Jepang selalu berusaha untuk mencoba hal-hal yang terbaik dalam menularkan ketrampilan berbahasa kepada siswa. tolong metode atau teknik pembelajarannya dijabarkan lebih detil lagi.
    salam kenal, monggo mampir ke blog saya di sini : http://subpokjepang.wordpress.com/about/
    terimakasih

  22. eko berkata:

    Bener tuh, pencerahan dalam bahasa inggris kata banyak Pakar perlu adanya kecerdasan bahasa, namun dengan metode yg sederhana semua metode cuma memperumit persoalan. Perlu balajar ilmu laduni .. kalleee …

  23. Iis Kusaeri berkata:

    Sungguh saya salut dengan pemikiran Anda. Listen and Repeat. Ya, memang demikianlah adanya dan yang seharusnya. Tujuan dari pelajaran bahasa salah satunya (mungkin juga yang utama) adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain. Salut pak.

  24. paparayya berkata:

    Terima kasih pak, saya jadi terinspirasi

  25. mabrur berkata:

    metode yg harus kita tuangan…

  26. speed english berkata:

    listen and repeat bisa lebih di kembangkan dengan konsep listen and answer the story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: