Budaya disiplin kita…

Sebenarnya banyak bahan yang berkaitan dengan disiplin, yang ingin saya tuliskan. Beberapa gambarnya sudah ada di dalam picasaweb, tinggal dimasukkan dan dikomentari.

Namun, seperti ucapan seorang rekan, “tinggalnya itu…” yang membuat belum tampil pada blog ini.

Topik kali ini menggelitik saya sewaktu mengunjungi Gramedia di Mall Panakkukang Makassar (tanggal 21 Maret 2008). Disana beberapa cermin “kehilangan disiplin” terlihat dan terpampang dengan “vulgar” di depan mata.

Salah satu contoh adalah, dihalaman depan Gramedia yang terletak di lantai 3 Mall tersebut sedang dilaksanakan “Bursa Buku Murah” dengan harga Rp.2.500 hingga Rp. 25.000,-

Salah satu jejeran buku yang menarik perhatian adalah jejeran komik manga dari Jepang yang kebetulan memang suka saya baca. Rencana hendak melengkapi koleksi buku “shanao yoshitsune, legenda naga dan ruler of the land” yang saya miliki dengan terbitan-terbitan awal dari  setiap komik.

Namun, setelah melihat pada rak-rak buku yang tersedia, semangat 45 yang sudah muncul tiba-tiba padam, melihat tumpukan buku yang sama sekali tidak terorganisir dan bercampur aduk antara satu komik dengan komik yang lain.

Bagaimana bisa memilih dengan baik dan nyaman ?

Akhirnya segera balik badan memasuki toko buku Gramedianya.

Di dalam toko, kejadian demi kejadian kembali terpampang, dimana pada beberapa tempat amat sulit untuk melihat deretan buku, karena diatas sebuah deretan judul buku, tergeletak buku lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan deretan tersebut.

Rupanya, banyak diantara “calon” pembeli, setelah melihat resensi dari sebuah buku, tidak mengembalikan lagi buku tersebut ke tempatnya. Malah hanya melempar begitu saja ke sekelilingnya. Kebetulan salah seorang melakukan hal itu tepat disamping saya. Akhirnya, tanpa mengacuhkan tatapan heran dia. Saya ambil kembali buku itu dan menempatkan kembali pada tempat yang sebenarnya.

Ah….alangkah susahnya menanamkan budaya disiplin bagi bangsa kita😦

8 Balasan ke Budaya disiplin kita…

  1. ahmad sobandi mengatakan:

    Kang Khalid, perihal disiplin ini rupanya sangat berkaitan erat dengan tuntutan “alam” dan “lingkungan”. Bagi penduduk negara-negara lain, terutama negara-negara yang sudah “maju” di kawasan subtropic, disiplin itu sudah bukan lagi keharusan, melainkan suatu “kebutuhan”. Andai saja bangsa kita sudah mampu merasakan bahwa hidup “disiplin” itu sebagai suatu kebutuhan, sama halnya dengan sembilan bahan pokok, mungkin bangsa kita akan mudah menerapkan perilaku disiplin dalam kehidupannya.
    Saya melihat dan mengalami sendiri bagaimana “pedih”-nya hidup tanpa disiplin di negeri sakura [setelah “berkesempatan hidup” disini selama dua bulan]. Kita akan merasa terkucil, tersisih, dan tidak diperhatikan. Rupanya perilaku disiplin ini memang sangat berkaitan dengan fenomena alam seperti iklim, pergantian musim, pergantian cuaca, dll. Lengah sedikit, meranalah kita. Dan sepertinya hal ini “cash and carry”. Saat itu kita “melanggar” disiplin, sesaat kemudian kita dapat merasakan “hukumannya”. Kalo hal seperti ini sudah dapat dirasakan oleh bangsa kita, ga harus ada “kader penegak disiplin” ga harus ada “Polisi Pamong Praja”, atau Petugas Tramtib, dan sebangsanya. Cukuplah “alam” yang akan “mengingatkan” kita, bagaimana mendisiplinkan diri.
    Komentar ini sangat berkaitan dengan “pengalaman pahit” pribadi ketika mendapatkan “penghargaan” atas ketidakdisiplinan diri. Belum berkesempatan untuk saya tuliskan dalam halaman blog saya karena saking banyaknya yang harus disampaikan, tetapi sedikit yang dapat dituliskan. Hehe … Ja mata ne!

  2. Ahyar mengatakan:

    salam
    iya pak, disiplin itu memang mudah dilafalkan tapi sulit dilaksanakan. mulailah dari disiplin diri, seperti hal-hal kecil yang kita alami sahari-hari, dari mulai matahari terbit, dari mulai bangun sampai kita kembali tidur. mungkin dari hal-hal demikian akan kalau sudah terbiasa, akan mulai ke hal-hal yang lain. kita mulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri.

  3. petak mengatakan:

    Pendidikan disiplin kita harus disertai dengan Wisdom,

  4. habdolll mengatakan:

    bro, disiplin itu harus dari diri sendiri, tp aparat pemerintah jug harus tetap berusaha mendisiplinkan masyarakat. ini aja deh komentar gw bro, gw sendiri juga susah untuk disiplin dengan masalah yang itu tutuuuuuuuuu ….😛

  5. taufik mengatakan:

    salam kenal aja, kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com.

  6. CY mengatakan:

    Kalo antri atau pengurusan surat2 resmi di negara2 maju misalnya Singapura, Taiwan ataupun Perancis enak dan nyaman. Tapi coba kita antri di negara kita sendiri Indonesia, darah bisa turun naik bbrp kali dari kaki sampai ujung rambut alias emosi berat liat yg nyerobot antrian hehehe…

  7. Muhammad Fadly Atjo mengatakan:

    Yah itulah gambaran bangsa kita pak, jangankan di toko buku pak, bapak datang aja ke instansi publik atau yang lainnya…benar apa yang disampaikan mas ahmad sobandi disdiplin di masyarakat kita belum menjadi sebuah kebutuhan… so mari kita mulai dari diri kita sendiri…sy yakin lambat laun akan menjadi lebih baik

  8. FEBRY mengatakan:

    TERIMA KASIH ATAS MASUKAN DAN PERHATIANNYA BAGI TOKO KAMI.
    INI MERUPAKAN MASUKAN YANG SANGAT BERHARGA BAGI KAMI DALAM USAHA MENINGKATKAN PELAYANAN KAMI DI HARI -HARI YANG AKAN DATANG.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: