Kisah seorang Pengawas Ujian Nasional

Pagi ini, saat memoderasi milis-milis yang saya tangani dan membaca email yang baru saja masuk. Saya cukup tercengang membaca sebuah email dari mailing list Centre for the Betterment of Education (CFBE) yang menceritakan kisah seorang pengawas Ujian Nasional (UN) dalam menjalankan tugasnya.

Terlepas dari kontroversi penyelenggaraan Ujian Nasional yang kalau dibahas tidak akan selesai dalam waktu berhari-hari, yang membuat saya miris adalah berita ini justru membuka sisi lain dari pendidikan kita, yaitu sifat “menggampangkan” dan “jalan pintas”

Cukup menyedihkan melihat siswa kita tidak memahami apa arti dari sebuah proses dan mendewakan yang namanya “kelulusan” dan “nilai”.

Mungkin ini adalah cerminan pendidikan yang diberikan kepada siswa kita.

Dibawah ini adalah email lengkap di milis tersebut, yang linknya dapat diakses disini.

From: cfbe@yahoogroups.com [mailto:cfbe@yahoogroups.com] On Behalf Of yosephine maryati
Sent: 23 April 2008 19:58
Subject: [cfbe] Dilema pengawas UN

Bermata tapi tak melihat,bertelinga tapi tak mendengar….. Tiba-tiba saya jadi ingat syair lagu milik Bimbo tersebut. Inti dari kalimat itu ialah orang yang seharusnya mampu melihat dan mampu mendengar karena memiliki mata dan telingga. Banyak sebab mengapa orang menjadi buta dan tuli meskipun memiliki panca indera yang utuh. Makna yang lebih dalam lagi yaitu buta tuli soal hati nurani.

Dua hari menjadi pengawas ujian nasional SMA bagi saya sangat makan hati. Segala perasaan sebagai guru menjadi campur aduk,antara yang kasihan melihat beban psikologis anak juga perasaan tanggung jawab profesional sebagai pengawas. Kebetulan saya menjadi pengawas di salah satu SMA swasta. Seperti kebanyakan siswa-siswa di sekolah yang lain,betapa menakutkan dan menegangkan ketika anak IPS sekolah tersebut harus mengerjakan soal matematika. Tahun ini untuk pertama kalinya mata pelajaran matematika menjadi mapel ujian nasional. Banyak siswa IPS yang dahulu memilih jurusan IPS hanya karena menghindari matematika meskipun di program IPS tetap ada sampai kelas XII,namun tahun-tahun sebelumnya tidak diujiankan nasional.

Selama dua jam menjadi pengawas bersama satu pengawas yang lain ,saya sangat menderita. Satu jam pertama saya berusaha mengendalikan perasaan saya yang sedang berkecamuk. Bagaimana mungkin,secara vulgar mereka saling memberikan jawaban meski tipe soal beda A dan B ( kata anak-anak soalnya antara A dan B mirip hanya nomernya beda) mereka dengan cueknya tengok kanan kiri. Kami sudah berusaha memperingatkan tapi seakan mereka tidak peduli pada para pengawas. Kami masih berusaha sabar karena beban psikologis mereka. Namun apakah karena kami memahami beban tersebut justru sikap kami menjadi permisif? Seperti anak kecil yang berbuat kesalahan,kita jarang mau berkata jujur bahwa itu salah. Kita dengan mudah memaafkan mereka karena menyadari bahwa mereka masih kecil. Apakah anak-anak itu minta dikasihani oleh para pengawas dengan membiarkan berbuat seenaknya?

Akhirnya ketika waktu hampir habis,30 menit kami tegas saja. Bukan berarti pengawas diam itu berarti mereka bebas seenaknya. Saya sempat menatap mata salah seorang siswa yang dari awal sibuk cari-cari jawaban. Alhasil malah saya yang gantian dipelotin oleh dia. Saat itu sungguh saya merasa dilema menjadi seorang pengawas ujian. Kami sebagai pengawas pun tidak hilir mudik kesana kemari. Selama satu setengah jam kami duduk manis. Kurang lima menit waktu habis,lembar jawab siswa yang duduk di depan meja guru,masih banyak yang belum diisi. Saya sempat iba karena jelas dia tidak bisa seenaknya seperti teman yang lain meminta jawaban kepada teman. Ketika bel tanda berakhir saya meminta mereka untuk meninggalkan tempat ujian tapi beberapa anak berteriak ”sebentar Buk….” saya berpikir positif bahwa mereka memang butuh waktu untuk menghitamkan jawaban namun di pihak lain kesempatan itu digunakan untuk meminta jawaban secara vulgar. Saya sempat ”gilapen” apa-apaan ini. Akhirnya dengan menepuk-nepuk meja saya menghalau siswa yang sengaja mengambil jawaban teman.

Pulang mengawasi ujian,saya menitikan air mata. Saya tidak mengira kejadian tadi yang disebut ujian nasional. Mengapa anak-anak menyikapi kegalauan dan kekuatiran tidak lulus dengan sikap yang negatif? Mengapa kami para pengawas seakan-akan dihimbau pengertiannya untuk memahami situasi berat ini dengan memberi kelonggaran kepada mereka. Kami melihat sesuatu yang sangat menyakitkan dalam proses belajar namun kami seakan tidak punya power. Kami harus berdamai dengan situasi,kooperatif dengan mereka. Hati nurani saya tersiksa.

Saya tidak menduga,malam harinya saya ditelfon kepala sekolah saya dan diingatkan jangan terlalu serius menjaga ujian. Kalau melihat anak-anak yang saling memberi jawaban,pura-pura tidak tahu saja. Saya cukup kaget karena saya harus berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya mohon kepala sekolah mencari pengganti pengawas yang sekiranya bisa kooperatif. Tetapi permohonan saya tidak dikabulkan hanya dijanjikan tahun depan saya tidak akan diusulkan jadi pengawas karena kebetulan mapel saya Bahasa Indonesia karena biasanya di tempat kami tidak punya tugas mengawasi. Hanya karena ada beberapa teman yang mengikuri prajabatan maka saya dan dua orang menggantikannya.

Hari kedua,sebelum masuk ke ruangan ,panitia mengingatkan kepada para pengawas untuk tidak terlalu galak. Sejak tadi malam saya menduga pasti panitia mendapatkan laporan anak-anak(meski belum tentu benar laporan mereka) dan menghubungi kepala sekolah saya. Saya memaksakan diri datang meski setengah hati mengingat perintah kepala sekolah saya untuk menjaga hubungan dengan sekolah lain. Saat briefing ,para pengawas dimohon kerelaannya untuk menciptakan suasana sejuk ,mbok yang familiar dengan anak-anak. Kasihan anak-anak yang dapat pengawas yang sungguh-sungguh bekerja,ketika mengatakan hal itu panitia tersebut sebenarnya sambil guyon tapi bagi saya sangat menyakitkan hati.

Saya heran dengan pernyataan itu, artinya ketika pengawas bekerja sesuai ketentuan malah dianggap merugikan anak-anak. Saya jadi apatis,percuma juga kalau saya ingin menjelaskan kepada panitia situasi yang terjadi kemarin karena menurut saya mereka tidak butuh argumen saya,yang mereka butuhkan ya
guru-guru yang kooperatif dan krompromis.

Hari kedua saya lalui tanpa kesan karena saya menjadi begitu cuek jadi pengawas. Teman pengawas yang lain juga banyak yang merasakan seperti saya,sikap mereka ”porah-porah” artinya terserah aja deh.. Ternyata anak-anak tidak hanya saling ngobrol,mereka sungguh tidak punya malu lagi. Bahkan sobekan kertas saling dilempar. Gambaran tentang pendidikan di Indonesia tergambar sangat jelas di hadapan saya. Mengapa yang namanya ujian nasional mengajari orang bersikap tidak jujur. Kepanikan tidak hanya dirasakan murid tetapi guru sehingga guru pun menjadi begitu tegang. Akibatnya menyerah kalah dengan membiarkan dan memberi kelonggaran anak-anak saling memberi jawaban. Kasihan,biarkan saja…..

Beberapa tahun yang lalu di salah satu SMA pinggiran di kota saya,mobil milik pengawas ujian sengaja dirusak oleh anak-anak yang merasa dirugikan karena tidak bisa minta jawaban teman gara-gara diawasi oleh pemilik mobil tersebut. Kekanak-kanakan dan sungguh tidak dewasa,ironis sekali. Mengapa guru-guru menjadi mudah menyerah, dan gentar dengan sikap anak-anak yang cenderung anarkis? Kadang kesannya guru jadi cari amannya sendiri dengan berkompromi membiarkan segala tingkah polah anak-anak ketika ujian. Sungguh dilematis menjadi pengawas ujian nasional…

Salam,
y. maryati
wonosobo

21 Balasan ke Kisah seorang Pengawas Ujian Nasional

  1. zulfaisalputera mengatakan:

    Negeri kita masih sakit, Mas!
    Kita bagai berada dalam sebuah puskesmas penuh pasien.

    Ugh ugh ugh …

    Tabik!

  2. Ivan Wangsa C.L. mengatakan:

    Sudah, negara Indonesia memang salah satu negara yang paling tidak logis di dunia ini. Lupakan saja, dan tinggalkan.

  3. zulkifar mengatakan:

    Wah.. kok sama dengan kejadian di sekolah saya yah. Bahkan anak2 sudah tidak lagi menganggap pengawas pada saat UAS, atau ujian semesteran. Enak aja mereka nyontek sana nyontek sini.
    Suatu saat ada kasus, ada guru yang marah mereka contekan. kemudian anak yang kena marah itu marah ngamuk, jok motor guru tersebut di silet. Guru2 sempat marah, dan sepakat mau tidak meluluskan anak tersebut. Kejadian itu di ujian akhir sekolah. eee… malah sama kepala sekolah ndak boleh, apa kata dunia kalau sekolah kita ada yang gak lulus ????

    hehmmm… semenjak saat itu guru2 jadi apatis, padahal dengan begitu mereka malah jadi kejam sekali, membiarkan anak didiknya tidak terdidik.

  4. NOER mengatakan:

    ketika kelulusan dan nilai sudah menjadi “tuhan” maka apapun akan dilakukan. sangat menyedihkan. lalu apakah masih ada arti penting sebuah pendidikan? semua menuju pada hasil semu, proses dibuang jauh-jauh. lalu apa yang bisa diharapkan dari pendidikan seperti itu???

  5. angger mengatakan:

    Ikut prihatin…
    Jika akar pohon tumbuh di tanah yang salah,
    cabang-cabangnya akan ikut salah.

    Jika kebijakan pendidikan salah
    bagaimana dengan praktiknya?

  6. sahatmrt mengatakan:

    turut prihatin dengan kejadian ini. namun mohon janganlah kita menimpakan semua ini pada anak-anak itu. mereka nyaris tidak punya pilihan lain selain bersikap seperti itu, sikap yang muncul ketika nilai dan kelulusan menjadi ‘tuhan’.

    saya kuatir anak anak itu hanyalah korban kebijakan pendidikan yang tidak realistis, tidak berdasar pada kenyataan bahwa memang pendidikan kita belum mampu menerapkan sistem uan ini.

    betapa banyak sekolah yang rusak berat nyaris rubuh, betapa banyak guru yang hidupnya amat sederhana (baca miskin) buat cukup makan saja susah, betapa banyak murid tidak punya fasilitas belajar yang memadai. betapa banyak sekolah yang memadai. Realistis kah sistem uan ini?

    penguasa menentukan, dan rahayat lah yang sengsara. kira kira begitulah yang terjadi.

    salam prihatin buat kita semua!

  7. hyorinmaru mengatakan:

    Hm…
    Kutipan dari paragraf terakhir email tersebut pak,

    …Mengapa guru-guru menjadi mudah menyerah, dan gentar dengan sikap anak-anak yang cenderung anarkis? Kadang kesannya guru jadi cari amannya sendiri dengan berkompromi membiarkan segala tingkah polah anak-anak ketika ujian…

    Hm, guru gentar kpd anak-anak?
    Mungkin…
    Tapi saya rasa lebih akurat jika dialamatkan penyebabnya kpd birokrat; yah, para penguasa, pejaba atau whatever-lah sebutannya, yang di “atas” kami (saya juga guru, soalnya😉 ).
    Pihak yg berwenang malah mengondisikan trjadinya “pelanggaran”, trs gimana😐
    Soal kejujuran dan berpegah teguh pada nurani, saya cuman punya jargon, buat saya sendiri: “Seorang penipu itu tidak sedang menipu siapa pun, kecuali dirinya sendiri”…
    Seperti kata Sdr Zulfikar, komentator ke-3,

    …semenjak saat itu guru2 jadi apatis, padahal dengan begitu mereka malah jadi kejam sekali, membiarkan anak didiknya tidak terdidik.

    Memang, sebenarnya menjadi semakin berbahaya jika begitu; tapi guru ditekan juga dari atas.
    So?
    Tanya ken…napa? *iklan ini lagi*😕

  8. hyorinmaru mengatakan:

    @ Ivan Wangsa:

    …Lupakan saja, dan tinggalkan.

    Jadi, kita cari pulau terpencil, trus pindah ke sana, gitu?
    Setuju…:mrgreen:
    Yuk…😉
    *pahit… pahit…*

  9. […] baca aja sendiri di blognya pak Khalid. Jika saya gak kuat iman, mungkin bisa bunuh diri saya Benar-benar gak waras (ya ya ya, saya tahu […]

  10. nindityo mengatakan:

    harus ada yang mulai mas .. meski sakit di awal mulanya ..

  11. sy4uq1 mengatakan:

    Memang sungguh sangat menyedihkan kondisi pendidikan di negara tercinta kita ini……..
    dengan alasan apapun saya sangat tidak setuju dengan perilaku siswa – siswa kita melakukan perbuatan tersebut………………………………
    Gimana nanti bila meraka menjadi pemimpin bangsa ini……….
    Saya juga mengalami kejadian serupa walau posisi saya sebagi panitia ujian di sebuah salah satu sekolah swasta ………
    Beda nya lebih parah lagi………..teman panitian yg lain dengan sengaja menyebarkan jawaban ke siswa……………
    Ya Allah ampunilah kami, Ampunilah bangsa ini…………….

  12. Ujang Resmi mengatakan:

    Saya juga ngawas UAN , saya berusaha untuk sangat toleran sama anak-anak, bahkan pada ujian bahasa Inggris ada salah seorang siswa yg telat menghitamkan jwaban seharusnya ujian uda usaia jam 10.00 dia malah baru mulai menghitamkan kami pengawas sepakat ngasih waktu 15 menit, ternyata anak tu belum siap, jadi saya emosi saya ambil aja jawabn dgg anjaman yg jwabannya tida saya terima, kejadian ini saya laporkan ke panitia tanggapan nya dingin aja ya begitulah anak kita, saya tahu anak tuh barusan dapat jwaban makanya baru diisinya. Dilhat dari kaca mata hati guru saya sama dgn diatas tegas kita ke anak kita ditandai..Kejadian serupa juga terjdai di Sekolah saya salah sorang guru kami dipanggil oleh Kepsek pagi ini karena beliau dapat laporan dari Kepsek tempat dia ngawas bahwa dia ngawas agak keta. Saya sangat mersa miris dan simpati pada guru itu semapt saya tanya, dia bilang dia cuma melototi siswa yg lagi bawa hp dikelas mungkin ada jawaban disitu. Jadi bagaimankah tindakan sebagai pengawas? Siswa kayaknya tidak menghargai kita termasuk kepsek kita sendiri. Runyam ya Pendidikan kita nih..Kepsek aja melonggarkan kecurang. jadi apa bangsa kita ini nanti. Salam buat yg nulis artikel tadi maju terus tanpa nyearh..yah

  13. rafitha mengatakan:

    saya jadi merinding pak,

    ngeri…

  14. bosskajur in java mengatakan:

    wah.. say ndak comment… saya juga pengawas SMK. saya ibaratkan mereka juga anak-anak saya yang sedang ujian. tapi dari segi sisi memang tidak mendidik. karena selama 3 hari kita jadi pengawas… bukan seorang guru ( kalau guru ada yang mencontek pasti di tegur )

  15. Hermansyah mengatakan:

    Saya justru berpendapat lain untuk menghindari kecurangan pada pelaksanaan UN.
    Kalau UN masih dilaksanakan seperti sekarang dan menjadi satu hal yang sakral untuk kelulusan siswa maka kita sangat sulit untuk mengindari kecurangan akan tetapi kalau UN dijadikan tolok ukur kemajuan proses pembelajaran pada sekolah.

    Biar kita terhindar dari dosa dan tidak mengajarkan hal buruk kepada siswa……………………………………… okey

  16. wangsa mengatakan:

    semoga semua curahan kita akan kondisi UN 2008 ini dibaca ama pak Djaali, denganBNSP-nya dan semua hal yang kita torehkan pada lembar ini tidak terbaca oleh siswa kelas XI, saya seorang guru di sebuahsekolah unggulan di Jakarta, siswa bertanya : apa sedemikian parahnya UN 2008 ? Ya begitu lah nak .

  17. Mus_ mengatakan:

    Bukti bahwa pendidikan di negara kita belum siap untuk benar-benar maju.

  18. vhieta- mengatakan:

    astafirullah…miris juga ya…..
    sedih…tapi dulu aku juga ngrasakhan gimana jadi siswa..tegang..taku..klo g lulus….tapi bukannya aku nyontek malah ditain jawaban..emang aku bisa…tapi bingung juga ya jadi pengawas…..dibiarin salah..g dibiarin kasihan…DILEMA

  19. heri yuwandi mengatakan:

    selama para petinggi/pejabat/para atasan masih bermental jeblok, indonesia mang bakalan lambat maju nya. yang benar-benar mengawas malah ditegur. trus menyarankan hal yang salah…

  20. yanto hardoyo mengatakan:

    unutk mencapai sesuatu, orang sering menghalalkan segala cara termasuk untuk mencapai kelulusan dengan cara tidak jujur. Apakah ini suatu tanda bahwa kiamat sudah dekat? Hanya Allah yang tahu

  21. arjuna_mgt mengatakan:

    Saya lebih setuju klo Ujian Nasional itu sebagai tolok ukur kemajuan proses belajar di sekolah masing2 saja. Karena klo Ujian Nasional masih seperti ini, maka kecurangan dan menghalalkan segala cara utk LULUS akan terus terjadi dimana2.
    Moga2 pemerintah punya kebijakan yang yang lebih baik tentang Ujian Nasional.
    Jangan hanya Ujian Nasional saja yang dijadikan ukuran utk LULUS dengan mengenyampingkan belajar mengajar selama 3 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: