Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

(Tulisan ini adalah opini pribadi seorang Khalid Mustafa)

Kemarin (tanggal 4 Januari 2008), bertempat di ruang rapat Sekretaris Jenderal Depdiknas, telah dilakukan pertemuan “segitiga”, antara Kepala Biro PKLN, Kepala Pustekkom dan Kepala Biro Umum Depdiknas yang dipimpin langsung oleh Sesjen Depdiknas untuk membicarakan teknis “penyerahan” atau “pemindahan pengelolaan” Program Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri ke Pustekkom.

Salah satu butir dalam pertemuan tersebut, yang ditegaskan oleh Kepala Pustekkom, Bapak LILIK GANI (LG), bahwa per-tanggal 1 April 2008, Jardiknas sudah harus dikelola penuh oleh Pustekkom, padahal oleh Kepala Biro PKLN ditawarkan pendampingan pengelolaan bersama dalam waktu 1 (satu) tahun.

Yah…tapi show must go on…saya akan mencoba sedikit memaparkan dibawah ini, mengapa pemindahan ini bisa menjadi anugrah atau “musibah”

Sejarah Jardiknas

Saya merupakan salah satu saksi hidup perjalanan sebuah program yang bernama Jardiknas ini. Sejak awal masih dalam tataran ide sampai pembangunan saat ini. Saya tidak akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Jardiknas, silakan pembaca membuka web http://jardiknas.diknas.go.id

Pembangunan Jardiknas tidak lepas dari sosok Bapak Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto , sejak tahun 1999 semenjak menjabat sebagai Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur – yang sekarang berubah menjadi Direktorat PSMK), terus konsisten dalam mengembangkan Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan hingga tahun ini saat beliau menjabat sebagai Kepala Biro PKLN.

Saya masih ingat dalam sebuah perbincangan dan diskusi pada Tahun 2000, dimana saya pertama kali bertemu dengan beliau di VEDC Malang, beliau melontarkan sebuah harapan, “Kapan yah anak bangsa ini bisa berinternet dan menikmati materi-materi pembelajaran melalui sistem jaringan dengan murah dan mudah ?” Pada saat itu, kami sebagai orang-orang “lapangan” langsung menanggapi harapan tersebut dengan tekad untuk bersama-sama mewujudkan sesuai dengan kemampuan dan posisi masing-masing.

Tahun 1999, diluncurkan program Jarnet atau jaringan internet, dimana diharapkan setiap sekolah menengah kejuruan, dapat terhubung dengan internet agar komunikasi dari pusat dan sekolah dapat dilaksanakan dengan cepat.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sering undangan pelatihan, atau diklat, atau bantuan baru tiba setelah acara terselenggara. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis negara kita yang menyulitkan dalam pengiriman informasi secara fisik.
Nah, diharapkan dengan program ini, setiap SMK dapat memperoleh informasi-informasi terbaru langsung dari Dikmenjur. Juga diharapkan, dengan adanya koneksi ini, maka sekolah dapat berinteraksi dan menjadikan mailing list dikmenjur sebagai sebuah sarana berdiskusi secara bebas dan terbuka. Bayangkan, seorang Direktur Dikmenjur langsung mendengarkan keluh kesah guru dan kepala sekolah secara langsung. Hal ini akan mempersingkat kendala birokrasi yang menjadi salah satu momok di negeri ini.
Mau bukti ? Silakan buka saja http://groups.yahoo.com/group/dikmenjur dan silakan membaca seluruh arsip yang ada disana.

Tahapan berikutnya adalah bagaimana agar koneksi internet di sekolah tersebut dapat dibagi ke laboratorium komputer, dan bagaimana apabila sebuah daerah mengalami kendala dengan koneksi internet yang saat ini masih cukup mahal dan lambat ? Juga bagaimana dengan SDM-nya ?

Untuk mengatasi hal ini, maka diluncurkanlah sebuah program dengan nama Jaringan Informasi Sekolah (JIS) yang berbasis kepada kabupaten dan kota.
Program ini memberikan infromasi tentang cara membuat Local Area Network (LAN) di masing-masing sekolah, dimana pembuatannya dilakukan sendiri oleh guru yang berada di sekolah tersebut. Juga cara untuk membuat server gateway, agar koneksi internet yang dulunya hanya dinikmati di satu komputer dapat dinikmati oleh satu sekolah.
Dari Depdiknas, dalam hal ini oleh Dit. Dikmenjur memberikan bantuan dalam bentuk penyediaan instruktur yang mendatangi setiap Kab/Kota yang berminat dan mengajarkan kepada seluruh sekolah di daerah tersebut. Tidak kurang dari 150 kabupaten/kota yang terlibat saat itu. Dan antusiasme guru-guru yang ikut dalam pelatihan sangat besar.

Output dari program JIS adalah terwujudnya LAN pada sekolah-sekolah di kabupaten /kota, terinstalasinya server materi pembelajaran di masing-masing sekolah, sehingga walaupun tidak ada koneksi internet, materi dapat dibuka dalam laboratorium sekolah secara bersamaan, dan bagi yang bisa terhubung dengan internet maka koneksi yang ada dapat dibagi ke seluruh komputer yang ada. Tidak ketinggalan juga terbentuknya komunitas guru yang memiliki semangat belajar dalam bidang IT di setiap kabupaten/kota yang telah terwadahi dalam bentuk program JIS.

Nah, koneksi secara individu sudah dilakukan, koneksi LAN di dalam sekolah juga telah dilaksanakan, ide berikutnya adalah bagaimana menghubungkan seluruh sekolah dalam satu sistem jaringan pada lingkup wilayah kabupaten/kota. Dari sini muncul sebuah program dengan nama Wide Area Network Kota, atau disingkat WAN Kota pada tahun 2002.
Pada tahap awal, program ini diujicobakan pada 9 Kab/Kota di Indonesia (Tangerang, Cibinong, Bandung, Jogjakarta, Wonosari, Surakarta, Malang, Bali dan Makassar) yang seterusnya dikembangkan pada ratusan kab/kota lainnya.
Ide dasar pengembangan WAN Kota adalah dengan menjadikan salah satu SMK/SMA yang terbaik dalam Bidang TI dan memiliki SDM yang handal dalam bidang TI sebagai pusat sistem jaringan. Kemudian, dengan memanfaatkan frekwensi 2,4 GHz menghubungkan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya dalam radius 3-5 Km untuk bergabung dalam sistem jaringan bersama. Dengan sistem ini, maka hanya dengan membangun 1 server saja yang berisi materi-materi pembelajaran, maka materi tersebut dapat dinikmati oleh sekolah lain. Juga, seorang guru terbaik untuk materi pelajaran tertentu dapat memberikan materi pembelajaran yang selanjutnya dapat diikuti oleh sekolah lainnya secara online. Dan pada akhirnya, dengan menurunkan 1 koneksi internet saja di titik tersebut, maka sekolah-sekolah yang lain juga dapat menikmati hal yang sama.

Dalam perkembangan selanjutnya, WAN Kota dianggap terlalu sempit, karena hanya berkonsentrasi dalam bidang teknologi saja, dan lebih banyak berkecimpung dalam perangkat keras dan berbagi pakai koneksi, sehingga diluncurkanlah program yang disebut ICT Center (kebetulan saya adalah salah satu perancang dan penulis awal buku panduan sistem ini, nanti akan saya ceritakan pada kisah lain…)

Dengan ICT Center, maka konsep WAN Kota diperluas menjadi pusat pengembangan, pendidikan dan pelatihan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Lembaga yang menjadi ICT Center diharuskan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang IT secara luas kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga tidak sekedar berbagi bandwidth, tetapi juga menjadi pusat pelatihan, pengembangan bahan ajar dan pusat informasi pendidikan. Saat ini telah terbentuk 430 ICT Center di 426 Kab/Kota (ada beberapa kab/kota yang memiliki 2 ICT Center).

Selanjutnya, untuk memperkaya peran dan fungsi ICT Center, maka dikembangkanlah program broadcasting dalam bentuk pengembangan stasiun relay dan studio mini untuk TV Edukasi. Namun dalam pengembangannya, lagi-lagi karena masalah tupoksi, maka program ini dihentikan dan diserahkan semuanya kepada Pustekkom. Namun, sebagai “sisa” dari program ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar stasiun relay untuk penyiaran TV Edukasi berlokasi di SMK.

Nah, koneksi antar sekolah telah dikembangkan, maka saatnya untuk memikirkan Backbone Pendidikan Nasional, yang menghubungkan seluruh Kabupaten/Kota di Republik Indonesia.Program inilah yang disebut dengan Jejaring Pendidikan Nasional atau Jardiknas.

Untuk mendukung program Jardiknas, karena amat disadari bahwa pengembangan Infrastruktur saja tanpa dibarengi dengan pengelolaan SDM dan Konten akan tidak berguna, dan hanya akan berakhir kepada kegagalan, maka dikembangkan program Teknisi Jardiknas dan Pelatihan Jardiknas.

Program Teknisi Jardiknas (http://teknisi.jardiknas.org) adalah sebuah program beasiswa kepada teknisi yang akan menjaga dan merawat Jardiknas pada institusi masing-masing. Sehingga perangkat yang ada dapat terus terjaga sustainabilitinya. Juga sekaligus meningkatkan kemampuan SDM anak bangsa dan memberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi.

Program berikutnya adalah program pelatihan Jardiknas, yang melatih 30.000 orang kepala sekolah, guru, tata usaha dan pustakawan untuk memanfaatkan Jardiknas dan untuk membangun konten yang akan menjadi salah satu bagian dari Jardiknas. Salah satu hasil dari pelatihan ini adalah http://media.diknas.go.id yang berisi portofolio dan materi-materi pembelajaran yang dihasilkan oleh guru-guru tersebut.

Ke depan, materi atau konten yang telah dan akan dibangun, akan disebar ke masing-masing kabupaten/kota agar tidak membebani trafik jaringan. Sehingga diharapkan setiap titik dapat mengunduh dengan mudah dan cepat. Namun, walaupun setiap materi dipecah di setiap kabupaten/kota, namun sinkronisasi secara nasional terus dilakukan secara periodik, agar materi yang ada di Papua, Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa tetap sama. Untuk program ini, Biro PKLN bekerjasama dengan ITB membangun program Pustaka Maya yang dapat diakses di http://pustakamaya.diknas.go.id

Kondisi Jardiknas saat ini

Nah, untuk lebih memperjelas kondisi, saya mencoba untuk memberikan gambaran mengenai kondisi Jardiknas yang telah dibangun selama 2 (dua) tahun.

Pada tahun 2006, Jardiknas hanya dikembangkan untuk 464 titik di Indonesia, dimana hal ini mencakup seluruh kabupaten/kota, di luar ibu kota propinsi.
Mengapa ibu kota propinsi dilewatkan ?

Pada tahun tersebut, di Depdiknas ada 2 (dua) program dalam bidang TI yang sama-sama bertujuan untuk membangun jaringan skala nasional. Yaitu Jardiknas yang dikembangkan oleh Direktorat Dikmenjur (Pertengahan tahun baru berubah menjadi PSMK dan terjadi penggantian Direktur) dan Inherent yang dikembangkan oleh Ditjen Dikti.

Agar tidak terjadi “kemubaziran”, atas arahan dari DPR, maka Jardiknas tidak dipasang pada ibukota propinsi, karena setiap ibukota propinsi telah tercover oleh program Inherent tersebut. Diharapkan dinas pendidikan kota di ibukota propinsi dapat terhubung ke Jardiknas melalui simpul lokal Inherent.

Namun…rencana memang selalu muluk, tapi pelaksanaan jauh panggang dari api. Pengeloaan inherent yang parsial dan tidak terpusat mengakibatkan kendala birokrasi yang cukup rumit di seluruh propinsi. Harapan agar kantor dinas dapat terhubung ke Perguruan Tinggi yang menjadi simpul lokal bagaikan berhadapan dengan tembok baja.

Akhirnya gagallah rencana tersebut.

Pada tahun 2007, dengan tekanan yang lebih kuat untuk bersinergi dari DPR, maka pendanaan untuk program Inherent dimasukkan ke Biro PKLN dan digabungkan ke dalam program Jardiknas. Sehingga dalam program Jardiknas terdapat 1 zona khusus, yaitu Jardiknas Zona Perguruan Tinggi.

Pada tahun 2007 ini, koneksi Jardiknas bertambah lebih dari 100%, yaitu menjadi 1.104 titik, dimana penambahan yang paling signifikan terjadi pada zona perguruan tinggi, dan institusi pemerintah lainnya (seperti LPMP, BPPLSP, BPKP dan SKB).

Perubahan yang signifikan juga terjadi pada lokasi NOC, dimana semula hanya terdiri atas 1 NOC (di senayan) menjadi 3 NOC (senayan, karet dan gubeng).

Juga terjadi perubahan IP besar-besaran, dari IP Privat (10.xxx.xxx.xxx) menjadi IP Publik (118.xxx.xxx.xxx)

Mungkin bisa kebayang bagaimana mengelola sistem jaringan sebesar ini, juga penanganan terhadap troubleshoting yang terjadi, permintaan perubahan lokasi jardiknas, dan lain-lain.

Mari dipikirkan mengelola router sebanyak 1.104 router, dengan koneksi MPLS dan terbagi atas 2 jenis koneksi, yaitu wireline dan VSAT. Belum lagi permintaan bandwidth yang berubah-ubah dan kenakalan client yang mengubah password dan setting router di titik akhir.

Sampai hari ini, jumlah koneksi yang sudah terhubung sudah mencapai 900 titik, diharapkan pada akhir januari, seluruh titik sejumlah 1.104 titik sudah akan berfungsi maksimal.

Pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekkom

Pada akhir 2007, kami memperoleh informasi yang cukup mengagetkan. Dengan alasan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi), program Jardiknas tidak boleh berada di Biro PKLN, tetapi harus berada di Pustekkom.

Perintah pemindahan juga telah turun dari Mendiknas, dan berkali-kali LG meminta pemindahan anggaran secepatnya dilakukan. Malah, beberapa program kami yang “berbau” Jardiknas juga diminta sekaligus.

Perlu saya informasikan, bahwa di Biro PKLN ada sebuah Bagian yang bernama Bagian Sistem Informasi, dimana salah satu tupoksi pada sub bagian pengembangan sistem adalah mengembangkan sistem informasi pada Departemen Pendidikan Nasional, juga selain Jardiknas, kami memiliki sebuah program yang bernama Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Karena efisiensi anggaran, memang beberapa program kerja kami padukan antara Jardiknas dan Dapodik. Misalnya untuk sosialisasi, monitoring dan evaluasi. Termasuk program pendamping ICT.

Nah, kalau anggaran kami yang berbau IT diambil semua, maka sekalian saja bubarkan Bagian Sistem Informasi pada Biro PKLN…

Namun, perintah tetap perintah, akhirnya sebagian besar anggaran PKLN, utamanya Jardiknas dipindahkan ke Pustekkom. Kami sebagai pelaksana dituntut untuk “legowo” menghadapi hal tersebut.

Atas perintah kepala Biro, kami mulai mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pemindahan ini. Termasuk rencana diskusi dengan tim internal Pustekkom agar proses pemindahan dapat berlangsung secara mulus.

Bukankah Jardiknas ini milik kita bersama ?

Namun, disisi lain, Pustekkom harus melihat kronologis pengembangan Jardiknas ini. Jangan menganggap Jardiknas hanyalah sebuah program “biasa” yang dijalankan berdasarkan anggaran tahunan belaka. Jangan cuman melihat besarnya anggaran yang ada pada program ini (padahal, 100% anggaran itu untuk lelang, bukan swakelola), tapi lihatlah bagaimana persiapan yang harus dilakukan agar program Jardiknas ini yang telah mulai dinikmati oleh anak bangsa dapat tetap eksis dan tidak terpengaruh dengan pemindahan “kekuasaan” yang terjadi.

Kami telah menawarkan solusi yang terbaik…mari kita bentuk tim bersama…dijalankan dalam waktu 1 (satu) tahun, dimana waktu 1 tahun ini kami anggap cukup untuk mempelajari segala pernak dan pernik permasalahan dan pengembangan Jardiknas yang ada.
Kami yakin dan percaya, dengan kerjasama yang baik, sebagai sesama abdi masyarakat, kita dapat mempermulus terjadinya transfer of knowledge ini.

Namun, hasil pertemuan kemarin sudah mematahkan semangat ini. Kalimat “menggampangkan” proses pemindahan dengan langsung menetapkan 3 (tiga) bulan, dimana 1 April langsung ditetapkan seluruh resiko adalah tanggungan Pustekkom menurut saya amat sangat tidak bijaksana sekali.

Kalau itu yang diinginkan dan itu merupakan perintah, akan kami laksanakan….

Tapi, kita bisa melihat, apakah perubahan ini akan menjadi “anugrah” atau “musibah” bagi anak bangsa.

123 Balasan ke Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

  1. Om Parcom mengatakan:

    Wah…ini sih bukan anugrah atau musibah…..tapi ini adalah “wabah Korupsi”…., sudah pasti hancur-hancuran kalau begini jadinya…. Kualitas dan Kuantitas Pustekkom yg punya cabang di setiap provinsi sudah jelas orang2nya Membleh semua dan udah siap teropong liat duit….., ” Tapi kata Pustekkom….Emang gue’ pikirin…?!!, yang penting duitnya sama saya…..mau beli mobol baru nih gue…..”….Ha..ha..ha…ha..ha…….
    Dasar Pustekkom Bejat Bin Yahudi……….

  2. Idham Sirunna mengatakan:

    Jardiknas adalah untuk anak bangsa… kenapa mesti saling berebut… kenapa pemimpin bangsa ini tidak pernah mau menghargai dan mendukung hasil karya orang lain?

    Yang seharusnya dilakukan Pustekkom adalah mensupport apa yang telah dilakukan oleh Biro PKLN, jika ada program lain yang perlu untuk pengembangan Jardiknas silahkan masukkan saran ke Biro PKLN bukan malah merebutnya…

    Kemudian Pustekkom cari program lain dibidang IT yang tidak dikembangkan oleh Biro PKLN, sehingga program Biro PKLN dibidang IT jalan dan Pustekkom juga jalan.

    Jika ini yang terjadi maka semakin maju IT di Indonesia dan ini akan mempercepat pencerdasan anak bangsa…

    Hai… para pemimpin bangsa… jangan saling memperebutkan “KUE” yang siap dibagikan ke rakyatmu, tapi buatlah “KUE-KUE” lain yang juga siap untuk dibagikan ke rakyatmu… sehingga rakyat ini akan berterima kasih kepada kalian…

  3. Frans Thamura mengatakan:

    sudah baca indonesia pecah 2015, yah seperti inilah Indonesia, bangga menjadi bangsa bodoh.

  4. upika mengatakan:

    sebetulnya jika alasan sebuah tupoksi, kenapa juga bukan tupoksinya aja yang dirubah? alasan yang bas bang- basi banget deh. gpp pak, nanti kelihatan kok hasil kerjanya. salut buat p khalid dan tim. semoga program dapodik bisa menuai hasil yang labih baik.

  5. Sunarto mengatakan:

    Kasus ini hampir sama didaerah (mudah2an saya nggak suudzon :) ). Ditingkat Kab/kota saja pada sibuk rebutan kue jardiknas. Pengalaman pahit saya dari membangun wan kota sampai jardiknas sekarang, saya harus membuka ‘lembaran baru ‘ 3 kali.
    Terakhir saya harus memasang 90 an wireless jardiknas plus 15 titik repeater di ICT Banyumas. Dari urusan manjat tower 40 meter serta naik genteng sekolah menjadi pekerjaan rutin 3 bulan lebih. Belasan juta rupiah (uang pribadi) kami keluarkan agar program jardiknas ini sukses. Tapi apa mau dikata ketika pekerjaan selesai, secara sepihak oknum ICT bilang, “ini proyek rugi”. Rugi dari sisi mana saja juga bingung. SPJ yg dibuat juga dimark up sana sini. Belasan juta melayang, ongkos juga tidak.

    Setelah ICT dipindah ke sekolah lain pun, belum ada tanda-tanda ke arah sisi positif. Ditempat yg baru saya harus banting tulang disisi teknis sampe manjadi tutor pelatihan guru, TU dan pustakawan. Dua Bulan berlalu, juga tidak ada tanda-tanda honor sebagai sekedar tanda terima kasih. Ucapan terima kasih pun tidak. Atau pelatihan ini memang tidak ada dana nya ? Saya bingung sendiri.

    Sepertinya idealisme dan niat baik kalah sama pejabat yg suka ” KUE “. Kadang saya ingin membenarkan ungkapan bahwa, disemua lini memang ada yg suka maka “KUE”

    Sunarto – Mahasiswa Prog Beasiswa Unggulan D3TKJ Banyumas

  6. spypark.reborn mengatakan:

    Satu jam saya bingung dengan apa yang ingin saya tulis disini. Banyak pertanyaan yang hanya membuat saya semakin bingung. Saya hanya berharap :

    - semoga Jardiknas bukan sebuah “KUE”.
    - semoga harapan “Kapan yah anak bangsa ini bisa berinternet dan menikmati materi-materi pembelajaran melalui sistem jaringan dengan murah dan mudah ?” tercapai, sehingga “Mencerdaskan kehidupan bangsa” tercapai.
    - semoga alasan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi) membuahkan hasil yang lebih maksimal
    - semoga apapun itu yang terjadi diatas sana tidak mengorbankan investasi baik itu fisik maupun SDM yang telah ada maupun yang tengah dipersiapkan.
    - semoga Jardiknas selalu mengalami peningkatan baik kualitas maupun kuantitas.

    Amien … Amien … Amien …

  7. sroestam mengatakan:

    Pak Khalid Mustafa Yth,

    Saya ikut prihatin mendengarkan cerita Bapak soal pengalihan wewenang pengelolaan dari Biro PKLN ke Pustekom. Dengan 900 node di seluruh Indonesia yang sudah terpasang, maka Jardiknas sudah termasuk jaringan Internet yang terbesar di Indonsia, dan dengan demikian telah memberikan kontribusi yang besar kepada pendidikan anak2 bangsa.

    Saran pak Idham sebenarnya baik, yaitu Pustekom sebagai technical support buat Jardiknas, sama halnya di banyak Perusahaan, Divisi TI/TIK bukan pelaksana operasional, mereka hanya memasang dan memberi support teknis dan pemeliharaan.

    Saya kurang tahu tentang struktur Organisasi DEPDIKNAS, dan tentang job description dari masing2 Unit Kerja. Apa ada di Web-nya DIKNAS?

    Kalau boleh tahu, berapa besarnya anggaran Jardiknas per tahun? Mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa banyak yg ingin mengambil alih.

    Adik saya punya kawan sekolah, pak Eko Sukarso, dulu beliau pegang DIKMEN, dan sekarang di Pendidikan Luar Sekolah. Kalau Bapak ketemu sampaikan salam saya.

    Wassalam,

  8. Khalid Mustafa mengatakan:

    Pak S. Roestam ysh.

    Kalau secara online struktur organisasi Depdiknas sepertinya memang belum ada, webnya yang ditangani oleh Pusat Informasi dan Humas sepertinya masih dalam tahap persiapan…

    Anggaran Jardiknas, karena konsepnya adalah OPEX merupakan anggaran untuk sewa BW Lokal dari end point ke NOC, BW Internasional Link dan BW untuk IIX. Ini termasuk seluruh perangkat pada end point di 1.104 titik tersebut, dimana kami mempersyaratkan output dari perangkat tersebut adalah RJ-45.

    Nilai untuk tahun 2008 adalah Rp. 120 M untuk 1 tahun…

    Konsep pengadaannya adalah lelang umum. Dan biasanya diumumkan pada bulan Januari.

    Baik pak, saya akan sampaikan kalau saya bertemu beliau…

  9. Eko Haryanto mengatakan:

    Pak Khalid M Yth..

    Sunggguh begitu terhenyak saat saya membaca tulisan anda tentang pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekom. Setelah jeri payah kawan-kawan Biro PKLN untuk menjadikan Internet dapat dinikmati di sekolah pelosok-pelosok Indonesia dengan berlandaskan Tupoksi untuk kemudian diambil alih oleh Pustekom, hal ini bagi kami adalah “Musibah”. Kalau hal seperti ini kita biarkan saya khawatir seluruh ide dan pemikiran kawan-kawan Biro PKLN dan Bapak Gatot HP nantinya tentang Pustaka Maya, Dapodik dan unsur IT lainya akan turut di ambil alih oleh mereka, lalu apakah mereka di gaji sebagai PNS hanya untuk merebut ide dan pemikiran orang lain yang telah berjalan tanpa bisa membuat sebuah ide lain? sungguh hal ini adalah sebuah pola berfikir yang sangat tidak sesuai disaat indonesia sedang bangkit dari keterpurukan di segala lini. Kami dari ICT Centre merasa sangat sangat kecewa jika hal tersebut direalisasikan, namun menyimak dari apa yang Pak Khalid sampaikan Show Must Go On… namun satu yang pasti saya masih ragu apakah dengan pemindahan Jardiknas ke Pustekom akan dapat membuat Jardiknas dan program yang berkaitan dengannya akan dapat lebih maju dan dapat di respon positif oleh kawan-kawan? Wallahu’alam Bis’sawab..

  10. Aa Nata mengatakan:

    Ide nakal aja… gimana kalo Pustekom diambil alih sama PKLN? :P

  11. M.Adil Baligading mengatakan:

    prihatin……..!
    Pergantian pimpinan dalam satu instansi selalu menghasilkan kebijakan yang baru pula. akankah program yang sudah matang dalam perencanaan bisa berjalan baik jika di tengah jalan diganti oleh orang yang tak tau akar permasalahan. saya kok pesimis

  12. Fadli Eka Yandra mengatakan:

    Kita lihat saja apa yang bakal terjadi, semoga ada solusinya buat kita bersama dan Jardiknas tentunya, saya cuma berharap agar apa yang telah kita perjuangkan agar semua diknas kab/kota bisa terkoneksi ke jardiknas, bisa dinikmati oleh kalangan pendidikan di negeri ini, amin.

  13. sumardiono mengatakan:

    Kalau promosi Internet melalui Jardiknas bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para siswa dan guru di lapangan, kita bisa berharap banyak adanya lompatan-lompatan pembelajaran dan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

    Semoga tidak dikalahkan oleh kepentingan proyek dan sekedar menghabiskan anggaran saja… Terus terang saya agak pesimis… Mudah-mudahan saya salah… :)

  14. Juminten Edan mengatakan:

    Klu birokrat n jajarannya masih bermental “proyek”, sepertinya dipindah kemanamun kok pesimis bisa berlanjut… seperti proyek “IT dan Portal” yang lainnya, masing-masing punya konsultan, masing-masing bagian punya alamat web.. berlainan (ada yang go.id, ada yang .net, dll) sementara dari isinya sebatas kata sambutan pimpinan.. kurang update, apalagi bila konsultanyya sudah selesai kontrak… terbengkalai sudah..
    Semoga bpk2/ibu2 yang selama ini telah mendedikasikan utk program jardiknas dengan penuh semangat tidak patah arang
    trims

  15. awan sundiawan mengatakan:

    Saya berharap, kondisi jardiknas lancar dan dapat bermanfaat dengan baik di dunia pendidikan. Biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak menjadi sia-sia.

  16. [...] Siapakah Pengelola Jardiknas dan ICT? Setelah satu tahun lebih saya menunggu ICT di Kuningan ingin segera dimanfaatkan di dunia pendidikan dengan program jardiknas yang sudah digembor-gemborkan, ternyata belum dapat dinikmati sepenuhnya. Harapan saya tidak lama lagi jaringan ICT dapat segera dimanfaatkan dengan baik. Apakah hal ini terkait dengan  Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom? [...]

  17. awan sundiawan mengatakan:

    Terima kasih atas informasinya Pak, tempat kami (http://smakos-kng.sch.id/) untuk mengakses jardiknas tidak melalui ICt tapi menggunakan jaringan lain, dan kami masih tetap bisa lancar menggunakan jardiknas.org dengan baik, hanya beberapa sekolah lain yang belum bisa, karena mengandalkan jaringan ICT. Salam kenal Pak.

  18. [...] jardiknas, Pendidikan, pustekkom. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu [...]

  19. santri mengatakan:

    oke kita main cantik aja. biar ketahuan siapa yg benar2 punya kompoten dalam jardiknas. PKLN kah atau Pustekom. Pustekom punya pengalaman mengambil TV edu. yang sekarang nasibnya mati segan hidup tak mau.

  20. edo mengatakan:

    welcome to the real world pak khalid :)
    akhirnya datang juga.
    saya sangat ingin untuk ber-khusnuzan dalam hal ini.
    tapi maaf, otak saya tidak bisa lepas dari faktor kepentingan.

    semoga pak khalid ngga patah semangat :)
    saya percaya, sesuatu yang baik tidak akan pernah hilang.
    mari kita lihat pengelolaan ditangan pustekom.
    semoga baik2 saja.
    jika kita memang berniat untuk kemajuan bangsa, mari kita berdoa terhadap yagn baik.
    namun, waktu akan membuktikan nanti,
    toh, komunitas pendidikan kita tidak bodoh pak.
    mari kita lihat perkembangannya

  21. Fajar Saechun mengatakan:

    Waduh pak… Tragis Ceritanya. Sebagai salah satu mahasiswa jardiknas, saya sangat senang mengikuti program jardiknas ini. tapi setelah mendengar posting ini, saya turut prihatin.. soalnya dalam mendirikan jardiknas ini dengan susah payah. dan perlu waktu bertahun2 tahun, serta dengan biaya yang tidak sedikit. Dan setelah program ini berjalan, ada saja “oknum” yang ingin mengambil alih dengan begitu mudahnya, tanpa mengindahkan asal usul, untung rugi dan nasib anak bangsa ini. padalah program ini sudah tergolong sukses. Mbok yooo jangan gitu, jangan maen rebut aja. lakuin deh hal positif yg laen, yg bisa memajukan indonesia kita ini. yang bikin anak bangsa jdi tambah pinter. yang bikin kita orang kecil maju.. Jangan buat Ibu Pertiwi nangis lagi melihat perilaku yang ga baek.. Kapan Indonesia Maju??? kek nya masih jadi teka2 teki yg belum terpecahkan.. disaat ada yg mao menjawab teka2 tsb.. malah drusuhin.. dasar…
    - Sukses buat pak Khalid dan Biro PKLN
    - Sukses buat semua yang ingin memajukan indonesia
    - Sukses buat semua anak2 jardiknas
    - Sukses buat Indonesiaku
    - Terkutuklah yang ingin mengacaukan kemajuan Indonesiaku ini.
    Amin….Amin….

    Wassalam

  22. siNung mengatakan:

    coba ditanyakan untuk kegiatan 2599 (PENINGKATAN JARDIKNAS)
    DIPA-nya melekat di satker apa ?
    satker tersebut yg bertanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan tsb :)

    referensi :

    http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-print-list.asp?ContentId=303

    Perpres Rincian APBN 2008

    http://www.anggaran.depkeu.go.id/Content/07-12-19,%20lampiran3.pdf

    Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat menurut program, kegiatan dan jenis belanja (Lampiran III)

    halaman 88 :

    fungsi : 10 PENDIDIKAN

    sub fungsi : 10.07 PELAYANAN BANTUAN TERHADAP PENDIDIKAN

    program : 03. PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN PENDIDIKAN

    kegiatan : 2599 PENINGKATAN JARDIKNAS

    belanja pegawai : 2.550
    belanja barang : 119.828.098
    belanja modal : 750.000
    bantuan sosial : 0
    jumlah : 120.580.648

  23. ---- mengatakan:

    Alasan tugas pokok dan fungsi menjadi alasan utama, apakah tidak ada alasan lain?
    Kenapa sih pus………… masih berpikir kolonial, cobalah sekarang pus……… berpikir bagaimana memajukan anak bangsa. Jangan berpikir karena gengsi, jangan berpikir karena anggaran, jangan berpikir karena yang lainnya lantaran hal-hal yang ga jelas. Mungkin kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada Biro PKLN yang sudah bersusah payah memajukan anak bangsa dengan membangun sebuah infrastruktur internet dengan sangat baik, walaupun masih dalam proses pengembangan secara bertahap. Mohon maaf apabila saya dalam hal ini berprasangka buruk terhadap pus……
    Saya hanya melihat secara kasat mata dan secara awam, bahwasanya TV Edukasi yang diambil pustekom sampai sekarang tidak mengalami perkembangan, TV Edukasi sampai saat ini masih sangat sedikit atau malah tidak terdengar manfaatnya untuk pendidikan. Dan saya berasumsi bahwa pus…… akan kesulitan mengelola infrastruktur internet yang telah dibangun oleh Biro PKLN. Coba kita berpikir dengan jernih untuk kemajuan pendidikan bangsa kita tercinta ini. Mohon maaf apabila dalam penyampaian tulisan ini bisa menyinggung pus……. yang saya pikir ga punya tujuan yang jelas.
    Salam Hormat

    —-

  24. Keju[dan]Kentang mengatakan:

    Mungkin mereka belajar dari satu filosofi yang ini “Satu Untuk Semua, Semua Untuk Saya”

    atau mungkin yang ini “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Saya”

    atau mungkin mereka gak pernah nonto Dore The Explorer “Sweaper jangan mencuri…Sweaper jangan mencuri”

    Cayoooo om Nugi, semoga gigi na g bengkak lagi :D jangan lupa ya Chotato na
    salam, Mari Cerdik Bersama Dapodik !!!

  25. Arief R Budiman mengatakan:

    Itulah pepatah yang pas buat Jardiknas ini…. terutama buat Pustekkom…. Klo dah tau Jardiknas ini gede anggarannya baru deh di sayang…… Kemana aja tuh pustekom…. Ada duitnya aja baru ngotot ingin ngelola… tapi klo anggarannya kecil, ane yakin pustekom itu ga akan ada perhatiannya ama nih Jardiknas. Mereka hanya ingin enaknya aja, tanpa melihat perjuangan kawan-kawan kita dalam membangun jardiknas ini……. Yang mereka lihat hanya duit….duit…duit……. Inilah wajah sebagian orang Indonesia…… dan inilah yang di tunjukan oleh kawan2 pustekom… Buat Bang Khalid CS….berjuang trus deh…..Kami mendukung di depan dan belakangmu….. Dan kita lihat perkembangan ke depannya…. apakah Jardiknas ini akan seolah-olah Hidup Segan Mati Tak Mau seperti TV Edukasi ato akan tambah berjaya……… Dengan segala macam kemajuannya…….

  26. Romi Satria Wahono mengatakan:

    Mas Khalid,

    Cara pak Gatot menyelesaikan konflik cukup bijak, dia mengatakan:

    “dear all,
    ndak usahlah kita perdebatkan hal2 yg tidak perlu, kita masih harus
    bersatu membangun karya sendiri utk anak bangsa..

    jardiknas adalah toll komunikasi yg kita kembangkan bersama., yg
    paling penting bagaimana kita berkarya membangun konten buatan
    indonesia.bersama2..ayok kita kembangkan JENI menjadi bagian produk
    indonesia, kmdn berkembang ke asean dan dunia.
    selamat bekerja, dan bekerja bersama.
    ghp

    Ini solusi paling elegan dan enak. Saya lihat pak Gatot melihat ke depan dan
    nggak pingin konflik ini tambah meluas, karena bisa kontra produktif.
    Gampangnya berpikir mungkin, “Kalau ntar pustekkom mumet karena harus
    ketiban sampur mengelola jardiknas yg secara filosofis dan teknis tidak
    dikuasai pustekkom, pasti jardiknas tidak akan bisa balik lagi ke PKLN karena tdk
    sesuai tupoksi, yang lebih pas kalau pak gatot jemput bola ke pustekkom alias jadi
    kepala pustekkom” … hehehe.

    Selamat datang di dunia kesemrawutan birokrasi kita.

  27. khalidmustafa mengatakan:

    Makasih banyak sudah mampir di blog ini mas romy…

    Memang ucapan pak gatot tersebut yang saat ini menjadi kebijakan “resmi” PKLN. Kami sedang “berbenah” dan mulai berkemas-kemas barang-barang yang akan diserahkan kepada pengelola baru Jardiknas.

    Selanjutnya kami akan konsen kepada program Dapodik (akan saya tuliskan juga blognya) yang akan menjadi program utama kami.

    Nanti silakan komunitas yang akan menilai prgram Jardiknas ke depan. Yang jelas, kami akan berbuat yang terbaik hingga detik-detik terakhir…

  28. tjokro mengatakan:

    Nasib NKRI …negara Kok Republik Indonesia ….. Indonesiaaaaaa..Kok tanah airkuuu…Kok tanah tumpah darahku… di sanalahhhh…kok aku berdiri…. kok jadi pandu ibuku……:P kekekekekeke

  29. Guru PNS mengatakan:

    Inilah kelebihan bangsa Indonesia yang harus kita junjung ! Bukan masalah duit nya, tetapi masalah IQ nya yang penting. Sejak berdirinya Pustekkom tidak menghasilkan aa-apa, bikin materi pelajaran dalam bentuk VCD ( bagusan juga BF jepang ), membuat software flash yang isinya semrawut ( mendingan saya aja di kasih kursus 6 bulan dijamin bisa bagus ). TIDAK ADA SATUPIN YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK KEGIATAN KBM ! Akhirnya saya mencari software materi pelajaran ( flash format ) dalam bahasa Inggris yang lebih bagus dan membuat siswa interaktif.
    1 komentar aja : ini berarti …
    MEMINDAHKAN TUGAS SEORANG INSINYUR KE TANGAN LULUSAN STM.

  30. Akar Rumput Jardiknas mengatakan:

    Wah, beda lagi kalau saya Pak, menurut saya Pus*****m “sangat kompeten” dalam mengurusi Jardiknas nantinya, mengingat track recordnya selama ini “bagus sekali” di dalam dunia TI Pendidikan, dan manfaatnya “kelihatan” sekali.

    Contonya :
    - masuklah ke website http://www.domainwhitepages.com, lalu masukkan domain pustekkom.go.id, lalu centang pada semua opsi di bawahnya, klik Go. Lakukan hal yang sama pada e-dukasi.net, maka hasilnya tak kurang “menggembirakan”. Di antaranya :
    Service scan
    FTP – 21 Error: ConnectionRefused
    SMTP – 25 Error: ConnectionRefused
    HTTP – 80 Error: TimedOut
    POP3 – 110 Error: ConnectionRefused
    IMAP – 143 Error: ConnectionRefused
    O iya, cek juga domain http://www.tvedukasi.org

    Asli mode = On
    Bayangkan, jika ngurusi website saja tidak bisa (baca: be*us), portal pendidikan yang sesederhana itu dan sudah menelan biaya sebanyak itu.. terbengkalai dan down.. jangankan ngurusi Jardiknas yang kompleks dengan blade server-nya, dengan Multi Packet Label Switching network-nya, dsb.. dsb.. bayangkan….

  31. irwin mengatakan:

    Lid, kalau mau bertahan dan tetap berbakti sama negara satu-satunya cara adalah banyak bersabar dan berusaha bekerja sama sebaik-baiknya dengan orang lain, Jangan mempertentangkan “hal-hal” yang tidak perlu dipertentangkan. Semua hal yang baik akan membantu kita masuk ke surga :)

  32. cholis mengatakan:

    wiiiiiiiiiiiiiiih….makin rame aja nih….. jadi pengen comment juga…
    sebelumnya, saya minta maaf kalau comment saya ngawur bin gak jelas.
    Kalau saya sih gak kaget, gak heran… ya begitulah para pemimpin dan pejabat di Indonesia (gak semua si, tapi kebanyakan emang gitu kan?? buat yang ngrasa…maap yah!!).Dan ini mungkin sudah menjadi tradisi yang melekat di sebagian pemimpin dan pejabat di Indonesia?? Kadang saya jadi berpikir, anak cucu saya nanti gimana yah?? Saya saja sekarang susahnya kek gini.heueheueheu (OOT).

    Kalau aman2 aja, malah saya heran…kok bisa yah, pemimpin dan pejabat Indonesia seperti itu??
    Sekali lagi maap nih.. kita lihat saja tanggal mainnya, saat Jardiknas dipindahtangankan ke Pustekkom. Apakah sebuah bencana, atau anugerah.Dan saya mendoakan, semoga semua akan menjadi lebih baik dan apa yang sudah menjadi tujuan dari Jardiknas tercapai. Amin

  33. Phillip R. mengatakan:

    Saya sudah mendengar berita mengenai pemindahan JarDikNas beberapa hari yang lalu tetapi saya merasah “Pasti Common Sense Willl Prevail” dan saya menunggu kabar yang lebih baik sebelum diumumkan di Pendidikan Network.

    Saya setuju dengan si “Akar Rumput” di atas “mengingat track recordnya (Pus*****m) selama ini …. di dalam dunia TI Pendidikan”
    Coba: http://pendidikan.tv/penelitian.html

    Saya harus mengaku bahwa saya agak skeptis mengenai JarDikNas dari awal karena kunci untuk “TIK yang berhasil” (& semua teknologi pendidikan) adalah bahan-bahan dan informasi yang bermutu “dulu”, baru teknologinya.

    Tetapi saya percaya bahwa kalau JarDikNas dapat berhasil dan sustainable itu pasti oleh karena kemampuan dan dedikasi Pak Gatot sendiri bersama tim pelaksana yang saya kenal adalah baik dan berdedikasi.

    Ini pasti bukan berita awal tahun 2008 yang saya berharap. Bagaimana nasib anak bangsa kita tahun ini kalau hal begini dilaksanakan terus oleh DepDikNas?

    Selamat berjuang!

  34. aflah mengatakan:

    Satu lagi korban Peraturan berjatuhan, harap maklum pak.. memang sekarang urusan kode rekening dan kegiatan sedang di tertibkan oleh depkeu, harusnya selain menertibkan anggaran.. depdiknas juga harus bikin struktur organisasi yang mencerminkan impelentasi dari pengaturan kode rek anggaran… mudah2an dengan tulisan bapak ini BPK, KPK “melek” dan bisa mencegah praktek korupsi. Amien

  35. Wahyu Pamungkas mengatakan:

    wah jardiknas “down” ternyata gara2 TUPOKSI to ternyata….dan ternyata banyak orang ngotot melihat jardiknas dari sisi keuangan saja, semoga nggak seperti itu lah…tetap semangat dan kita kutip kata mutiara dari PKLN :
    Jika orang lain DIAM maka saatnya kita BERGERAK
    Jika oarng lain BERGERAK maka saatnya kita TERBANG
    Jika orang lain TERBANG maka saatnya kita mulai dengan IDE BARU…..

    salam dari purwokerto, salut buat team pkln

  36. bee mengatakan:

    Jardiknas itu apa ya? :P

  37. abah mengatakan:

    Berkat GHP sang Panzer, 100M++ bisa ditembus walaupun cuma dikawal “HANSIP-HANSIP”.
    Tenang saja, 100M+++ sudah cukup untuk membuat TELKOM tidak “berpangku-tangan”.
    Siapapun yang ngurus duitnya, jejaring tetap akan ada.

  38. awan sundiawan mengatakan:

    Mudah2an anggaran yang cukup besar itu tidak sia-sia, semoga bermanfaat.

  39. Taufan mengatakan:

    ah ini biasa pak….budaya korupsi berjamaah…tinggal tunggu saat ada si wistle blowernya dan terungkap ke publik…apalagi kalo sistem dan segala macam infrastruktur nya yang dibangun ini bisa dirusak oleh hack dan orang orang jahil…baru ketahuan lemahnya sistem yang dibangun…nanti akan ada berita heboh di koran….

  40. komdas mengatakan:

    Apakah ini kira-kira tidak terkait dengan rumor (atau sudah fakta) bahwa pak GHP akhirnya jadi direktur Seamolec (yang erat berhubungan dengan Pustekkom). Jangan-jangan memang maunya pak GHP (hanya nebak sih!!)

  41. Heru Minandar mengatakan:

    Pak Khalid Yth.,

    Turut berduka cita dengan pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekkom

  42. Heru Minandar mengatakan:

    Pak Khalid Yth.,

    Beberapa hari yang lalu saya sempat kontak dengan GHP tentang http://kbbi.web.id dan beliau sangat setuju untuk terus dikembangkan, pertanyaan saya apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa di adopsi oleh PKLN sebagai media pendidikan bahasa Indonesia? saat ini portal tersebut saya bangun seorang diri karena terinspirasi oleh kebutuhan anak di Sekolah Dasar yang mengerjakan tugas Bahasa Indonesia dan mengartikan kosa kata dengan sumber dari kamus bahasa, saya cari di internet belum ada satupun kamus ekabahasa, maka saya mulai membangun kbbi.web.id tapi perlu bantuan dari semua pihak untuk menyelesaikan dan memeliharanya.

    terima kasih

  43. khalidmustafa mengatakan:

    Pak Heru, inisiatif bapak dalam membuat portal tersebut luar biasa, karena sampai saat ini memang kita kesulitan untuk mencari portal kamus umum Bahasa Indonesia.

    Untuk berkomunikasi lebih lanjut, silakan melalui alamat email saya di khalid[at]diknas.go.id

    Sebagai informasi, salah seorang staff ahli KaroPKLN, juga amat konsen dalam pengembangan bahasa Indonesia, dan menjadi pionir UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia). Beliau adalah pak Bagiono. Silakan juga berdiskusi dengan beliau melalui alamat email bag[at]indo.net.id

  44. Phillip R. mengatakan:

    Pak Heru,

    RE: “apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa … sebagai media pendidikan bahasa Indonesia?”

    Pasti, asal berdasar KBBI (DepDikNas) karena saya sering sekali menerima pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa yang cari definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (DepDikNas) gara-gara: http://pendidikan.net/bahasa21.html (kamus saya sudah capai.)

    Sebaiknya memasang links ke semua situs kamus yang lain juga termasuk:
    http://www.kamus.com/ & http://www.kamus.net/ karena juga bermanfaat.

    Selamat berjuang!

  45. Phillip R. mengatakan:

    Hai Heru, (Semoga ini lebih jelas)

    RE: “apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa … sebagai media pendidikan bahasa Indonesia?”

    Kalau ingin membuat kamus “ekabahasa” sebaiknya memasang “Kamus Besar Bahasa Indonesia DepDikNas Online”. Kamus biasa adalah murah dan biasanya ada di sekolah. Kebanyakan anak-anak tidak punya Internet di rumah, jadi saya tidak yakin apa manfaatnya kamus ekabahasa biasa.

    Dari pengalaman dengan http://pendidikan.net/bahasa21.html di mana banyak mahasiswa/i kontak saya dan meminta saya mencari kata di “KBBI DepDikNas” jelas jasa dan kamus ini berarti untuk mahasiswa (karena kamusnya mahal).

    Sebaiknya memasang beberapa link ke situs-situs dwibahasa di situsnya juga supaya pelayanan websitenya lebih lengkap dan menarik. Misalnya:
    http://www.kamus.com
    http://www.kamus.net
    http://www.kamus-online.com/
    http://www.inbahasa.com/main/
    http://indodic.com/index.html
    http://kamus.landak.com/
    http://kamus.ugm.ac.id/
    http://www.kamus-indonesia.com/glossword/
    http://www.total.or.id/
    http://www.sederet.com/
    http://web.cecs.pdx.edu/~bule/bahasa/search.php

    Selamat berjuang!

    Phillip

  46. dedidwitagama mengatakan:

    Ach … Indonesiaku … masih saja ribut antar keluarga … semoga 2015 tak jadi seperti yang ditulis komentator terdahulu … mungkin susah ya, tim yg terlibat di Jardiknas sekarang ikut hengkang ke Pustekom, tak usah menunggu kolaps dulu …

    Kalau di Senayan aja ribut … gimana yg di desa ya??? ah, biarkan mereka ribut, Saya mau terus berbuat aja ah, semoga Allah memberkati kita

    Keep Fight Pak Gatot, Pak Khalid and all

  47. Dito mengatakan:

    saya baru saja mencoba mengakses ke situs jardiknas (www.jardiknas.net) tapi kok belum di update? kok gini? atau emang begini?

  48. khalidmustafa mengatakan:

    Sesuai informasi pada tulisan, situs jardiknas adalah http://jardiknas.diknas.go.id

  49. [...] berkali kali sampe ada 9 judul postingan gak penting daripada aq ikut ngeributins soal Neverending Jardiknas mendingan kita ngomongin soal bagaimana cara membangun sebuah PVPGN server ato Warcraft III [...]

  50. Phillip R. mengatakan:

    Yth. Khalid Mustafa,

    Mengulang membaca saran-saran terhadap JarDikNas di sini mengajak saya meng-update http://e-pendidikan.net/dikotomi.html

    Kapan DepDikNas akan mualai “serious” dengan “rencana lengkap” termasuk pengembangan teknologi (yang konsisten) untuk membangun pendidikan di Indonesia?

    Salam Hormat & Selamat Berjuang!

    Salam Pendidikan

  51. wong cilik mengatakan:

    Orang Pintar Minum Antangin, dan orang pintar tau yg benar.

    “Indonesia Cerdas, Kompetitif”

    Salam

  52. manggoapi mengatakan:

    Dear all

    Denger-denger Jardiknas tadinya juga bukan di PKLN, tapi di unit kerja lain di mana Pak Gatot sebelumnya bertugas sebelum akhirnya dipindah ke PKLN. Konon jardiknas diboyong oleh Pak Gatot ke PKLN. Kalau memang begitu, tidak aneh kalau banyak yang berpikir soal uang. CMIIW

    Gagasan dan ide yang bagus alangkah baiknya kalau digarap bersama, melibatkan pihak-pihak yang terkait dan berkompeten. Bekerja sesuai TUPOKSI adalah hal yang wajar, kalau tidak, organisasi ya acak-acakan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Jardiknas harus di Pustekkom.

    Kita harus acung jempol untuk Pak Gatot, yang telah berhasil meyakinkan DPR sehingga angaran lebih dari 100M bisa disetujui untuk IT. Tapi, kita kan tidak boleh bergantung hanya pada seorang Pak Gatot. Dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait, maka ICT seperti syaraf yang menjalin informasi ke berbagai bagian tubuh. Tapi, kalau Pak Gatot mengandalkan konsultan-konsultan lepas, apalagi kalau dari waktu ke waktu silih berganti, maka tidak pelak lagi Jardiknas sangat bergantung pada Pak Gatot seorang. CMIIW lagi.

    Saya sendiri salah seorang “pengelola parsial” INHERENT (jaringan perguruan tinggi Indonesia). Tahun lalu kami diminta Dinas Pendidikan Provinsi untuk sosialisasi program Jardiknas, melalui vconf dengan Senayan. Kami memberi dukungan penuh tanpa ada membicarakan syarat apapun. Pada waktu itu jardiknas memakai IP 10. Lalu kami coba untuk koneksi vconf tidak berhasil. Senayan kemudian memakai IP 167 yang dialokasikan INHERENT untuk Jardiknas, tetap tidak bisa juga. Akhirnya, teknisi yang dikirim Jardiknas untuk membantu memutuskan lokasi vconf dipindah ke ICT Center kabupaten. Ternyata tidak bisa juga. Belakangan saya dengar dari representatif PT Telkok, vconf dilaksanakan di STO PT Telkom. Beberapa teman INHERENT saya ketahui juga berusaha membantu, tapi hasilnya sama dengan kami.

    Pada tanggal 17 Desember 2007 (sehari menjelan Launching BERMUTU), saya diminta Fasilitator dari PMPT untuk mengantar mereka ke kantor Dinas Provinsi, di sana kebetulan bertemu staf yang mengelola Jardiknas. Saya diberitahu bahwa ICT Kabupaten telah dapat melakukan vconf. Beliau saya undang untuk mengikuti vconf dengan Mendiknas untuk launching bermutu, tapi beliau katakan tidak bisa hadir, karena pada tanggal 18 Desember akan ke Jakarta, untuk selanjutnya ke Thailand bersama rombongan Pak Gatot. Beberapa hari setelah itu, saya diminta oleh pengelola D3TKJ untuk memberikan layanan vconf, saya anjurkan untuk menghubungi ICT Kabupaten, kaerna pengalaman yang lalu kurang berhasil. Setelah menemui ICT Kabupaten, memang perangkat sudah lengkap semua, tapi belum beroperasi.

    Saya ingin sampaikan bahwa sampai saat ini belum pernah ada permintaan dari Dinas Provinsi untuk menghubungkan Jardiknas Provinsi dengan INHERENT melalui kami. Jadi rada aneh bagi saya kalau dikatakan bahwa pengelolaan parsial menyebabkan timbulnya tembok baja, padahal berlum pernah ada keinginan untuk bekerja sama. Apakah itu banyak terjadi di provinsi-provinsi lain, entahlah. Kami diajak kerja sama saja tidak, apalagi berakhir tahun ke Thailand :P

    Akhir Tahun 2007, kami mendapat kabar dari PT Telkom bahwa akan dipasang koneksi Jardiknas. Ada yang sedikit aneh, kami tidak mendapat surat menyurat koordinasi apapun dari Jardiknas, tidak ada selembar kertas atau emailpun, mengenai apa dan bagaimana yang akan dipasang, bagaimana koordinasinya. Begitukah cara kerja Jardiknas? Saya kira mulanya kami akan ketambahan satu jaringan lagi, ternyata belakangan antena VSAT INHERENT dicabut, dan diganti dengan antena VSAT baru yang berasal dari Jardiknas, untuk koneksi yang sama persis, tetap ke INHERENT. Lalu di kalangan Jardiknas santer istilah “mulai 2007 INHERENT dimasukkan ke Jardiknas”. Secara keuangan memang jelas, bahwa kontrak infrastruktur jaringan INHERNT dialihkan ke PKLN, bukan Dikti, tapi apa itu berarti pengelolaan INHERENT harus dibawah kendali Tim Jardiknas? Kalau memang seperti itu, ya sama artinya dengan Jardiknas mengambil alih INHERENT, padahal INHERENT sudah beroperasi, minimal sebulan sekali diadakan vconf coffe morning dengan Dirjen Dikti. Content INHERENT terus ditingkatkan melalui hibah-hibah bersaing. Soal hasilnya, silahkan nilai sendiri.

    Saya pernah dengar selentingan, bahwa semua kontrak infrastruktur TI (termasuk sewa koneksi Internet di berbagai unit kerja di Diknas) akan dilaksanakan oleh PKLN (CMIIW). Sebagai gambaran, untuk INHERENT saja diperlukan waktu hampir setahun agar bisa “memaksa” PT Telkom memberikan layanan khusus, yang diwujudkan oleh PT Telkom dengan mendudukkan seorang EoS di Dikti, supaya setiap saat koordinasi dengan PT Telkom bisa dilakukan kalau ada gangguan. Kalau sewa Internet juga dipusatkan, bagaimana komplennya kalau ada gangguan, apa harus melapor ke yang bikin kontrak dulu? Bukan berarti tidak bagus, tetapi perlu dipikirkan sejak awal mekanismenya. Itu baru soal komplen kalau ada gangguan.

    Saya tidak ingin membela INHERENT, karena toh Jardiknas maupun INHERENT mestinya bisa bermanfaat untuk kita semua. Cuma, masing-masing perlu menyadari, bahwa Jardiknas adalah (terlepas dari namanya) adalah sebuah organisasi dengan otoritas terpusat, sedangkan INHERENT adalah sebuah network. Kebutuhannya juga beda. Ada kebijakan misalnya di INHERENT tidak ada Internet, sedangkan di Jardiknas ada. Soal content, Jardiknas dan INHERENT saya rasa nyaris sama, belum betul-betul bisa diandalkan, silahkan cek trafik di kedua jaringan, bandingkan dengan biayanya. Kalau kantor kabupaten dan provinsi tempat saya jadi ukuran, Jardikas malah masih berupa seonggok perangkat (CMIIW). Tapi kita harus maklum bahwa keduanya relatif masih embrio. Artinya, seperti kata “Abah”, soal uang dikelola siapapun sepertinya tidak akan jauh beda, karena yang berjaya baru infrastrukturnya, PT Telkom pasti tidak akan berpangku tangan. Di Internet ada berapa juta ruter ya..? Kalau dikelola terpusat, pasti saaaaangat tidak terbayangkan, tapi karena berupa network, yaa.. seperti yang kita rasakan sekarang.

    Kadang-kadang saya pikir, kalau uangnya lebih dari 100M, apakah kita tidak bisa sewa transponder. Dengan begitu, ketika content belum berkembang, bandwidth bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran melalui Internet. Jujur saja, secara teknis saya tidak tau apakah itu memungkinkan. Mungkin dana sebesar itu terlalu ngepas, dan konsekwensinya tidak ada lagi jalan-jalan ke Australia atau Thailand. FYI, INHERENT sudah tidak ada lagi “copy darat”, sekarang lewat milis dan vconf.

    Sebagai penutup komentar mohon maaf jika ada komentar saya yang keliru akibat misinformasi, CMIIW. Saya kira sebaiknya kita tidak patah semangat. Sabar itu kan seluas samudra, tidak bertepi. Yang diperlukan adalah bergandengan tangan. IMHO, peran ICT tu kan seperti syaraf, menjalar ke mana-mana untuk gerak seirama, jadi perlu bergandengan tangan. Mana yang perlu terpusat ya dibikin terpusat, yang perlu otonom ya dibikin otonom.

    Maaf kalau terlalu panjang.

    Salam

  53. manggoapi mengatakan:

    Tambahan lagi Pak Khalid, di daftar node jardiknas, pengelola INHERENT kami ternyata bukan orang yang sehari-hari mengelola INHERENT. He he he…

    Salam

  54. khalidmustafa mengatakan:

    Wah, makasih banyak atas masukan dan informasinya yang begitu mendalam :)

    Untuk sejarah awalnya, memang Jardiknas dimulai di Direktorat Dikmenjur sesuai dengan cerita di atas, dimana tujuannya adalah untuk menghubungkan WAN Kota yang selama ini sudah dimulai oleh Pak Gatot. Pemindahan Jardiknas dari Dikmenjur ke PSMK juga karena pada saat Pak Gatot pindah, jejaring ini masih berupa embrio yang amat muda, sehingga masih tetap di”keloni” oleh penyusunnya.

    Kami paham, bahwa sesuai tupoksi memang harus di Pustekkom. Kalau Bapak melihat tulisan di atas, saya cuman mengkhawatirkan waktu “3 bulan” yang diminta untuk memindahkan jejaring sebesar ini. Malah kami sudah menawarkan pemindahan dalam waktu 1 (satu) tahun.

    Kalau untuk pelaksanaan VCon tersebut (sayang saya tidak mengetahui Bapak dari Universitas mana), kendala yang ada pada saat tersebut (seingat saya) karena belum adanya interkoneksi antara gedung C lt.7 dengan wisma aldiron. Kemudian, pada saat menggunakan IP 167, rupanya setting pada BGP di kedua titik masih belum sempurna. Tapi masukan tentang pelaksanaan vcon tersebut sangat berharga untuk kami ke depan.

    Untuk permintaan interkoneksi di masing-masing ibukota propinsi, kami sudah melaksanakan komunikasi dengan tim Inherent pusat dan telah tercapai kesepakatan bahwa rekan-rekan tim inherent pusat akan mengkoordinir simpul-simpul lokal tentang komunikasi ini dan kami bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan ke dinas-dinas pendidikan kota/kabupaten, namun pada beberapa daerah, secara resmi dinas pendidikan setempat melaporkan kepada kami bahwa secara administrasi mereka merasa kesulitan untuk melaksanakan kesepakatan tersebut, karena setiap simpul “mengaku” belum memperoleh informasi dari pusat.

    Masalah VSAT Inheret atau “jardiknas” yang menurut laporan Bapak “dicabut”, telah kami komunikasikan dengan pihak PT. Telkom, dan itu dilaksanakan oleh internal PT. Telkom sendiri sehubungan dengan penggantian penyalur VSAT mereka. Jadi sama sekali tidak benar bahwa itu merupakan “perintah” dari tim Jardiknas.

    Kalau pengelolaan Jardiknas dan Inherent, dalam segi keuangan memang telah disatukan (sesuai dengan tulisan di atas), namun dalam pelaksanaan pengelolaan silakan ditangani sendiri oleh tim inherent. Dibuktikan dengan tidak adanya intervensi apapun dari tim jardiknas saat ini ke pengelolaan inherent. Kita tetap sama-sama jalan kok untuk mencerdaskan anak bangsa :)

    Kalau masalah kontrak, sepertinya kabar selentingannya kurang tepat kok ;) Kalau masalah pendanaan Internet sepertinya memang benar, bahkan saat ini juga akan dialihkan ke Pustekkom. Hal ini bertujuan, agar dalam kontrak bandwidth internet tidak sendiri-sendiri tapi sekalian membeli gelondongan agar lebih murah dan selanjutnya dialirkan ke masing-masing institusi.

    Syukurlah kalau untuk “layanan khusus” kami tidak perlu melakukan paksa-memaksa, hampir setiap hari AM Telkom hadir di tempat kami untuk berdiskusi tentang kondisi Jardiknas, juga EoS telah standby sejak awal Jardiknas berlangsung, karena sudah masuk dalam paket service dari Telkom untuk program ini.

    Masalah jalan-jalan, saya juga pingin tuh diajak jalan-jalan :) Tapi sayangnya, dalam schedule Jardiknas tidak ada jadwal jalan-jalan ke luar negeri tuh, soalnya Jardiknas itu jejaring pendidikan nasional, bukan jejaring pendidikan internasional…gimana kalau kita buat sendiri yuk …hehehehe…

    Kalau masalah pengelolaan secara terpusat, Jardiknas mencoba mengikuti program perbankan, karena memang bandwidth di masing-masing titik tidak sebanyak di Inherent. Nantinya kedepan, pasti akan dipecah sesuai dengan kebutuhan jaringan maupun bandwidth yang ada, sejalan dengan perkembangan conten yang ada.

    Kalau masalah komunikasi, kami juga sudah memaksimalkan mailing list, terbukti dengan komunikasi dengan titik yang mencapai aceh hingga papua telah kami maksimalkan dengan menggunakan milis.

    Usulan nih, bagaimana kalau tim teknis inherent di masing-masing lokasi bisa bergabung dengan tim jardiknas kami melalui mailing list, agar komunikasi bisa lebih lancar. Memang masalah utama adalah misscommunication aja sih, karena sekalipun kita belum pernah bertemu, baik fisik maupun di dunia maya. Hal ini sekalian silaturrahmi antar tim yang terbiasa dengan tower dan kabel :)

    Yuk…mari bekerja sama….bukan sama-sama kerja :D

    BTW.
    Untuk daftar node bagi lokasi inherent sudah kami berikan ke tim inherent pusat, menunggu konfirmasi. Selain daftar lokasi inherent itu dapat diedit langsung oleh tim pendamping di masing-masing propinsi.
    Silakan di cek pada http://www.jardiknas.org/lokasi/2007/

  55. manggoapi mengatakan:

    Dear Pak Khalid

    Soalnya saya dikejar-kejar oleh teman-teman pengelola D3TKJ, bahwa kami mendapat koneksi Jardiknas. Mereka mendapat informasi dari Pak Moh. Natsir. Nggak enak juga kalau dikira mengangkangi hak orang lain :). Jangan-jangan di Jardiknas sendiri ada miskomunikasi, di INHERENT juga ada miskomunikasi, antara keduanya menjadi semakin parah :D

    Sebelum penggantian perangkat VSAT, saya dihubungi oleh representatif PT Telkom setempat bahwa kami akan mendapat koneksi Jardiknas dengan menggunakan leased line. Saya merasa bahwa saya dihubungi karena saya merupakan kontak person untuk IT di tempat kami. Oleh karena itu saya koordinasikan dengan teman-teman pengelola D3TKJ, apakah koneksi akan dicantolkan di tempat mereka atau di tempat saya, dijawab ditaruh di tempat saya saja. Tunggu punya tunggu, ternyata perangkat VSAT yang diganti, tanpa ada penjelasan tentang nasib leased line. Penggantian perangkat VSAT tentu merupakan keputusan manajemen PT Telkom mengenai sub-kontraktor, hanya saja, karena didahului dengan pemberitahuan pemasangan leased line Jardiknas, membuat saya bingung. Sampai sekarang kalau saya didesak tentang koneksi Jardiknas oleh teman-teman pengelola D3TKJ, ya terpaksa saya minta ditunjukkan surat dari Jardiknas mengenai perangkat Jardiknas apa saja yang sudah dipasang di tempat kami. Kalau soal mau konek ke Jardiknas, ga usah nagih-nagih perangkat :D, asal bisa nyambung pasti dilayani. Hari ini kami sudah tes koneksi dengan Senayan, sepertinya pakai IP INHERENT di sana, dan akan ada vconf dengan Jardiknas hari kamis nanti.

    OK deh Pak, kalau jalan-jalan ajak-ajak donk, katanya di milis Jardiknas lagi rame cerita oleh-oleh dari Thailand nih ;). Kalau kerja… mmmm udah lumayan capek ngeladenin temen-temen D3TKJ.

    Milis di Jardiknas pasti rame ya Pak, anggotanya kan banyak. Cuma, denger-denger mau ada “copy darat” Jardiknas membahas Pustaka Maya.

    Pak Khalid, kita doakan saja kelak Pustekkom bisa mengawal “jalan tol” dengan baik, mudah-mudahan juga kita semakin bisa kerja sama, seperti kata pak Khalid, bukan sama-sama bekerja di tempat sendiri-sendiri dan menghasilkan banyak duplikasi yang sama-sama tidak akurat, dan jadi boros :D.

    Mungkin bagus kalau ada milis baru untuk koordinasi Inherent-Jardiknas, soalnya “konten” sehari-hari nanti ga nyambung kalau pengelola INHERENT masuk ke milis Jardiknas, menuh-menuhin mailbox pula :D.

    Wassalam

  56. khalidmustafa mengatakan:

    Sip..sip pak..

    Kalau ada hal-hal yang hendak didiskusikan dan mengganjal, email saya selalu siap 24 jam kok :)

    Mengenai informasi tentang Jardiknas, itu tidak salah, secara umum seluruh institusi yang melaksanakan program D3 TKJ itu akan dihubungkan dengan Jardiknas. Namun secara khusus, ada beberapa titik penyelenggara yang juga merupakan simpul inherent. Nah, dititik inilah yang kadang terjadi miss. Ada yang menganggap apabila terjadi kasus serupa maka titik tersebut memperoleh 2 jalur, ada juga yang 1 jalur saja dengan menghapus salah satu. Prinsipnya adalah, tiap titik hanya memperoleh 1 jalur saja dengan koneksi yang terbaik.

    Yang menentukan titik tersebut menggunakan wireline atau VSAT adalah PT. Telkom. Tim kami tentu saja tidak memiliki kompetensi untuk meninjau seluruh lokasi :)
    Jenis koneksi bisa dilihat pada link di komentar sebelum ini pak…

    Untuk vcon hari ini, kami hanya membantu untuk memenuhi permintaan dari Ditjen PMPTK, dan IP disini memang sudah menggunakan kelas IP dari inherent, sejak interkoneksi yang telah dilakukan.

    Kalau masalah jalan-jalan ke Thailand, silakan buka milis jardiknas di http://groups.yahoo.com/group/jardiknas dan sepengetahuan saya sebagai moderator milis, tidak ada tuh pembicaraan tersebut, coba dicek lagi deh pak :)

    Kalau rame sih lumayan, karena banyak teman-teman peserta pelatihan yang ikut di milis tersebut, dan rata-rata masih awam mengenai email dan milis. Jadi cukup lumayan untuk membantu mereka juga. Silakan bergabung pak, milis ini terbuka untuk umum…sayang tim kami sejak awal belum diijinkan bergabung di milis inherent-dikti :)

    Untuk copy darat, memang benar, karena saat ini kami mencoba mengisi jardiknas dengan konten-konten yang berguna untuk masing-masing kab/kota. Jadi tanggal 15 ini akan dilaksanakan pertemuan tersebut. Sistem ini juga dibangun dengan bantuan dari rekan-rekan di ITB.

    Untuk masalah doa, kami selalu berdoa kok pak, mudah-mudahan teman-teman disana juga dapat menjaga amanah di pundak mereka…

  57. viconer mengatakan:

    Koreksi pak khalid,

    Untuk acara vicon tgl 17 januari nanti, peserta asal uni yang terkoneksi via topologi INHERENT pakai IP 167x.x.x, sedangkan yang terkoneksi via VPN IP Jardiknas pake ip 118.x.x.x dan di Senayan pakai ip 10.x.x.x

    Jadi ada 3 jenis IP yang digunakan sesuai topologi lokasi masing-masing yang terhubung ke vicon server Jardiknas (MPS800 Tandberg).

  58. khalidmustafa mengatakan:

    Makasih banyak atas koreksinya :)

  59. Ainul mengatakan:

    Bapak Khalid Yth,
    Saya kaget setengah bingung? ICT Center belum berjalan dengan baik kok sudah ribut pelimpahan tugas dan nama. Mau dikasih nama apa aja dan siapapun yang mengelola tak jadi masalah yang penting berjalan lancar.
    Selama ini sudahkah ICT Center pusat mengecek kondisi ICT-ICT Center didaerah secara langsung, mungkin memang bener ICT Center daerah telah terhubung ke pusat tapi apakah sekolah-sekolah yang terdaftar Jardiknas telah terhubung dengan baik ke ICT Center masing-masing. Didaerah saya sekolah-sekolah yang seharusnya terhubung Jardiknas belum terhubung dengan baik tetapi dilaporkan telah terhubung. Kalo ada penyelewengan didaerah siapa yang berhak menindak.
    Saya heran didaerah masih banyak persoalan kok diatas ribut-ribut? Tolong,pak! kondisi didaerah dipantau dan diperiksa, Thank’s

  60. reyes mengatakan:

    Ini mungkin salah satu motivasi Pustekom merebut Jardiknas

    http://www.wartaegov.com/content/wow,-rp-300-miliar!

    Wow, Rp 300 miliar!
    Submitted by redaksi on 25 October, 2007 – 16:22.

    * Warta Utama

    PROGRAM TV Edukasi, merupakan “kakak kandung” dari proyek e-education sebelum Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) Depdiknas. TV Edukasi yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Informasi Komunikasi (Pustekom) Depdiknas ini bertujuan dalam pemerataan dan penyebarluasan informasi pendidikan ke seluruh SD – SMP di Indonesia.

    Berdasarkan catatan Warta eGov, sampai saat ini, sudah lebih dari Rp 300 miliar digelontorkan Depdiknas untuk proyek ini. “Sudah sekitar 14 ribu antena parabola dan 70 ribu televisi 29 inchi yang kami berikan ke sekolah SD- SMP se-Indonesia,” jelas Lilik Gani, Kepala Pustekom. Diperkirakan ada sekitar 12 ribu siswa yang menyaksikan program (modul) TV Edukasi baik yang melalui antena parabola, VCD/ DVD ataupun yang melalui stasiun TV lokal di setiap daerah.

    Sesuai kebijakan pemerintah pusat, tambah Lilik, penggunaan teknologi televisi, antena parabola, VCD/ DVD player memang ditekankan untuk siswa pada jenjang pendidikan SD – SMP. Sedangkan tingkat SMA/ SMK diarahkan menggunakan teknologi berbasis komputer-internet. “Siswa SD-SMP pastinya lebih mengenal teknologi televisi dibandingkan komputer/ internet,” tegas Lilik pada Warta eGov.

    Seakan tak mau kalah dengan “adiknya” yaitu Jardiknas, pada 2008 mendatang, Pustekom juga akan mengembangkan konsep baru melalui program multing point dimana semua SD – SMP akan memiliki ICT Multimedia Center berupa televisi, antena parabola dan perangkat komputer multimedia yang terakses internet.

  61. reyes mengatakan:

    Ini juga bisa jadi bikin “gelap mata” karena ada rencana besar di Jardiknas tahun 2008.

    1 Trilliun Untuk Komputer Jardiknas

    Denpasar – Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada 2008 akan membeli komputer dalam jumlah besar untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Dana yang dianggarkan bahkan mencapai Rp 1 triliun.

    Kepala Pustekom Depdiknas Lilik Gani mengatakan, dari jumlah Rp 1 triliun tersebut, Rp 500 miliar di antaranya dianggarkan untuk SMA dan SMK sedangkan Rp 500 miliar sisanya untuk SMP.

    “Dana tersebut digunakan untuk membuat pusat sumber belajar (PSB) atau semacam lab komputer di sekolah,” ujarnya, kepada beberapa wartawan di sela-sela acara ISODEL 2007 yang berlangsung di Hotel Kartika Plaza Discovery, Denpasar, Bali, Rabu (15/11/2007).

    Sementara untuk penyaluran, lanjut Lilik, akan dilakukan dengan strategi top down. Artinya untuk sekolah-sekolah yang siap akan menjadi prioritas untuk disalurkan perangkat ini. Sedangkan bagi sekolah yang jauh tertinggal akan dipersiapkan terlebih dahulu, mulai dari segi infrastruktur dan lainnya. Hal ini dilakukan agar komputer-komputer tersebut tidak mubazir.

    “Misalnya untuk di Indonesia bagian Timur, kita tidak mungkin memberikan komputer kalau infrastruktur dan jaringannya tidak kita bangun. Sehingga biar tidak menjadi garbage (sampah-red), makanya nanti ada Palapa Ring untuk penyediaan infrastruktur,” jelasnya.

    Program PSB ini sekaligus untuk mengejar target perbandingan antara jumlah komputer dengan jumlah penduduk Indonesia menjadi 1:20, sedangkan saat ini perbandingannya masih sebesar 1:50.

    “Untuk 1 set lab PSB diperkirakan bakal menghabiskan dana sekitar Rp 120 juta dengan memiliki 20 komputer di dalamnya,” imbuh Lilik.

    Sementara itu dari data yang dimiliki Depdiknas, tercatat bahwa 70% SMK di Indonesia sudah memiliki laboratorium komputer sendiri, untuk SMA 30%, sedangkan SMP 20%. “Sedangkan untuk perguruan tinggi tidak dibantu karena mereka telah swasembada dan mandiri, namun untuk perguruan tinggi negeri semuanya sudah memiliki lab komputer,” tandasnya.

    Sumber : Detik.net

  62. Phillip R. mengatakan:

    RR “Wow, Rp300 Miliar!”

    Kelihatannya siaran TV Pendidikan langsung pada waktu jam kelas tidak begitu berguna. Barangkali lebih efektif kalau membagi DVD (terisi program) saja daripada parabola dan siaran langsung.

    Bagaimana hasilnya kalau kita pakai rekeman saja (Video Cassette & DVD)?
    Ini cerita menenai Malaysia:

    The Evolution of the Technology-Based Learning Environment
    Malaysian schools have at various points in time been introduced to various educational technology innovations. In the early days there was Radio Pendidikan (Educational Radio) and schools were provided with cassette recorders to record these programmes. Some schools were given a few units of overhead projectors. When TV began in Malaysia, TV Pendidikan (Educational TV) was introduced and schools also acquired the Video Cassette Recorder (VCR), to enable them to record TV Pendidikan programmes so they might be shown at a convenient time. What has happened to all these innovative hardware? Are teachers using them in the classroom? WHY NOT? Today we have computers, CD ROMS and the internet. Will they meet the same fate like earlier technological innovations in our schools?
    Ref: Homestead.Com

    Kelihatannya sistim merekam program televisi pendidikan di sekolah juga tidak begitu berguna. Kalau tidak dapat berhasil di Malaysia dari dulu, untuk apa kita membuat sistim ini lagi di Indonesia? Televisi pendidikan sangat bermanfaat untuk mendidik masyarakat, tetapi di sekolah???

    RE: “”Hingga saat ini sudah 28.688 unit televisi dan 7.508 parabola yang telah disumbangkan kepada sekolah setingkat SMP di seluruh Indonesia,” papar Lilik.”

    Ini sangat bagus untuk manufakturer, maupun distributor. Semoga tidak ada korupsi atau kolusi, dan mudah-mudahan barangnya buatan dalam negeri supaya ada untung juga buat industri kita. Karena anggaran untuk pendidikan adalah sangat sedikit, seharusnya program-program berdasar pembelian barang dan jasa harus sering diaudit dan dievaluasi, dan hasilnya diumumkan.

    Coba: http://pendidikan.tv/issues.html

    Salam hormat

  63. Rudini mengatakan:

    Yth. Bpk. Kholid
    Sepertinya apa yang bapak kemukakan pada tulisan di atas tentang pemindahan Jardiknas dari BPKLN ke pustekkom cukup represetantif dari kegundahan kita bersama. Betapa tidak, bangsa yang telah sekian lama ‘berkubang’ pada ketertinggalan dari setiap kemajuan bangsa lain, sepertinya akan segera berkahir. Keberadaan program Jardiknas telah menabuh genderang ‘perlawanan’ atas prestasi bangsa lain dengan harapan mampu menjadi element penyempurna perkembangan TI masa kini dan akan datang.
    Saya teringat dengan diskusi dengan Bpk. Kholid beberapa bulan yang lalu, bahwa ternyata program Jardiknas (dan segala yangberkaitan dng TI) adalah program yang kemudian masih dalam tahap pencarian ‘jati diri’. Seperti apakah sosok ideal dari segala program Jardiknas masih dalam tahap ‘percobaan’ yang telah hampir sempurna, Program beasiswa Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang sementara dinikmati oleh anak bangsa (walapun masih segelintir dari sekian banyak anak bangsa yang butuh pendidikan) adalah salah satu fakta yang bisa kita jadikan indikator program Jardiknas telah mendekati kesempurnaan. Dan hasil yang telah kita saksikan ini tidak lain adalah hasil jerih payah dan ‘banting tulang’ teman-teman di BPKLN.
    Nah, klimaks dari hal ini (pemindahan jardiknas) adalah 1. Jardiknas akan terancam mandul dalam menyukseskan pengembangan TI di negeri ini dan menjadi setitik cahaya yang hanya menjadi torehan pada buku sejarah yang kemudia akan kembali di sesali ‘from generation to generation’. 2. Pengalihan itu akan menjadi boomerang dan bisa dipastikan bakal ada grash problem yang dihadapi oleh orang-orang pustekkom dan bisa jadi mereka akan ‘menarik diri’ darinya. Betapa tidak, semua program jardikas yang sementara berjalan masih terus dievaluasi dan pengevaluasiannya akan tetap balance ketika itu ditangani oleh orang-orang yang tahu betul duduk probelm (dari ide sampai tujuan) Jardiknas.
    Sepertinya bapak-bapak yang di atas sana perlu perhatikan komentar Bpk. Idam (mengutip pendapat Pak Idam) ‘Hai… para pemimpin bangsa… jangan saling memperebutkan “KUE” yang siap dibagikan ke rakyatmu, tapi buatlah “KUE-KUE” lain yang juga siap untuk dibagikan ke rakyatmu… sehingga rakyat ini akan berterima kasih kepada kalian…’
    Terakhir, saya mau mengatakan bahwa, problem Jardiknas adalah persoalan kita bersama dan ini bukan hanya problem jardiknas, masih amat sangat banyak problem yang dihadapi bangsa ini (korupsi, kebodohan, kemiskinan, kriminalitas, dll) dan ketika itu kita berdiam diri untuk itu, maka itu berarti kita menjadi pencundang atas kondisi terpuruk atas bangsa ini…
    Bravo Pak Kholid

  64. [...] dapat merasakan kelucuan dan kemirisan yang saya rasakan, silahkan dibaca dulu tulisan sebelumnya disini Selamat bersenang-senang [...]

  65. uwes mengatakan:

    memang, masalah JARDIKNAS ini pada akhirnya menjadi rumit. Banyak “vested interest’ didalamnya. yang rugi adalah end user menurut saya, yaitu sekolah dan perguruan tinggi yang tidak sempat mengenyam nikmatnya berinternet gratis. Mengingat ICT untuk pendidikan memainkan peran strategis, saya mengusulkan dibentuk Badan Khusus yang mengurusi itu setingkat eselon 1. Katakanlah Badan Teknologi Pendidikan, seperti di Amerika yang bernama “Office of Educational Technology”. Bahkan dibawah Wapres langsung. atau seperti KERIS di Korea Selatan. Pustekkom memang memiliki tugas dan fungsi mendayagunakan penerapan ICT untuk pendidikan. tugas tersebut, menurut saya terlalu besar bagi siapapun unit setingkat eselon 2 di departemen pendidikan nasional, apakah dikemnjur, pustekkom atau Biro PKLN.

  66. basesasak mengatakan:

    saya sedih dengan tudingan pusat bahasa depdiknas yang menyatakan kbbi.web.id ilegal (dimuat di majalah tempo edisi 28 januari – 3 pebruari 2008) terpaksa saya mengubah kbbi menjadi akronim dari Kamus Bersama Bahasa Indonesia, lebih sedih lagi ternyata depdiknas perlu waktu 5 tahun untuk membuat kamus bahasa Indonesia online yang rencananya akan diluncurkan bulan Pebruari 2008 ini.
    Padahal sejak saya membangun http://www.kbbi.web.id tiada henti mencoba menjalin kontak dengan pihak pusat bahasa depdiknas (Pak Dendy S), upaya terakhir adalah mengikuti saran ibu Dewi Sinto untuk mengirim pos-el ke Kabag TU pusba (karena kabarnya Pak Dendy sedang naik haji), beberapa hari kemudian ternyata saya mendapat SMS dari pak Gatot HP bahwa pusba sudah menyiapkan kamus online nya sendiri, wah entahlah. Mungkin ada yang salah di dunia pendidikan kita ini? atau orang “sipil” tidak patut berpartisipasi mencerdaskan bangsanya sendiri?

  67. Imade mengatakan:

    Pak Halid, saya minta Ijin copy paste tulisan Bapak ini, terima kasih.

  68. khalidmustafa mengatakan:

    Silakan pak, asal untuk kebaikan bangsa dan negara :)

  69. Wina mengatakan:

    Setelah membaca tulisan pak Khalid kok saya mendapat kesan yang lain, bahwa Bapak marah setelah anggaran jardiknas di rebut pustekkom. Berarti bapak mungkin sama dengan pustekkom yang katanya hanya berpikiran uang.

  70. khalidmustafa mengatakan:

    @Wina, apa sudah dibaca paragraf ke 2 dari atas dan 5 paragraf terakhir ?

  71. wina mengatakan:

    maaf saya sudah baca semua. dan apa yang saya utarakan kemarin hanyalah salah satu kesan yang saya tangkap, meski ada kesan yang lain dan sama seperti yang lainnya. Yang saya utarakan hanyalah kesan yang saya tangkap tanpa landasan yang lain.

    saya semalaman berpikir meski masih bisa tidur he.. he.. he..
    mungkin (sekali lagi mungkin) pak Khalid dan teman-teman adalah korban permainan politik tinggkat tinggi.

    Coba dibanyangkan (bayangkan saja jangan dipikirkan)
    1. Pak Gatot sangat konsen terhadap IT.
    2. Jardiknas berawal dari smk yang digawangi beliau
    3. Beliau pindah ke BPKLN
    4. Jardiknas dilanjutkan dengan anggaran BPKLN
    5. Jardiknas direbut Pustekkom.
    6. Pak Gatot pindah jadi Kepala Pustekkom (rumor yang saya dengar kan pak gatot sangat konsen dengan IT maka di pustekkomlah tepatnya beliau)
    jadi Jardiknas akan selalu mengikuti kemana pak Gatot pergi. Beliau tak mau pindah ke pustekkom trus merebut jardiknas, maka sekarang aja diserahkan biar tidak wagu.
    jangan dimasukkan hati ya pak Khalid. Ini hanya perkiraan skenario yang ada

    soal tupoksi bagian sistem informasi di BPKLN ya saya kira semua biro punya bagian sistem informasi, tapi ya apa sampai sejauh itu?
    Saya kira hampir semua instasi ada bagian sistem informasi.
    kantor saya ada bagian surat-menyurat pasti akan lucu kalo mau buat kantorpos atau agen kargo. (joke)

    terimakasih tanggapannya.

  72. khalidmustafa mengatakan:

    Hehehe, kalau paragraf ke 2 sepertinya memang demikian sih, sayang arahnya gak sebagus yang dibayangkan (gak usah dipikirkan yah, cuman dibayangkan) ;)

    Pak Gatot akan menjadi Direktur SEAMOLEC dalam waktu dekat dan tidak di Biro PKLN lagi.

    Untuk Bagian SI, memang benar, makanya pada tulisan tsb saya menekankan bahwa memang akan dipindah kepada bagian yang memang “tupoksinya”, sayang, statement “petingginya” yang sama sekali tidak mencerminkan keinginan untuk menyukseskan program ini. Hanya mikir gimana pindah dalam tempoe jang sesingkat-singkatnya… :D

  73. n3wb13 mengatakan:

    yah gpp pak nugi, kita cmn bisa ngegel curuk (gigit jari), setelah perjalanan yg kita lalui selama ini, dari cmn pny server putih ampe punya 3 NOC sndiri. Kita jujur aja Pak nugie sangat sakit hati apalagi teman2 IDC yg udah capek2 nyetting server, yg bentuk servernya udah aneh2, siang malem cmn mikirin jardiknas, diputusin pacar gara2 jardiknas, dicari Keluarga gara2 jardiknas. Cuman kita gpp sih itung2 kita belajar dan udah bantuin negara dengan hati insya allah Ikhlas :D. Ok lah pokoknya mah walaupun pindah ke Pustekkom kita masih bangun IT Indonesia dengan bentuk apapun. Kita sekarang berdoa saja, mudah2an yg sudah kita pupuk Jardiknas ini bisa tambah maju dan lancar dengan dipindah ke Pustekkom tp klo Jardiknas Hilang dari peredaran gara2 Tim Pustekkom yg koplok dan tolol wah kita bisa sangat marah sekali. Yah tau-kan kemarahan kita bisa melakukan apapun tanpa memandang bulu :)

  74. Heru Minandar mengatakan:

    Jangan ajarkan komputer di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah! topik yang menarik di detik.com ikuti link berikut: http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/27/time/084423/idnews/900507/idkanal/398 bisa jadi mawas diri untuk jardiknas yang merambah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah

  75. mabni Yulianto mengatakan:

    ya ini merupakan musibah ke dua, kami bekerja di ujung tombak kegiatan yaitu tingkat KaB/Kota sudah pernah di kecewakandengan TVE yang pindah ke pustekom dan sekarang jadi almarhum, artinya tidak ada yang concern ke TV tersebut.
    kalau pustekom memang mampu silahkan, namun akan lebih baik tetep melibatkan akar yang di bawah.
    sebab peru di ketahui pula, keberhasilan situng pemilu 2004 , tanpa ada bantuan dari kami yang di bawah , saya yakin tidak akan berhasil secara nasional

  76. iwedzone mengatakan:

    aduuh
    baru baca nichh
    bisa berabe klo ky gni.mbok orang2 yang diatas sana coba melirik ke bawah
    nich jardiknas banyak yg gak beres di bawah
    mahasiswa nya lah, ict center lah,provider ny lah
    liat dulu, pikirkan,tanggapi baru ambil tindakan.
    bisa 2 dibawah tambah remek nichh pak

  77. sofyan mengatakan:

    saran saya, bagusnya pustekkom diambil alih lagi oleh BPKLN, biar pustekkom lebih inten diberi pengajaran tentang ICT. Maklum SDM pustekkom rata-rata dibawah STD.

  78. [...] beberapa bulan sejak tulisan saya mengenai Pemindahan Jardiknas apakah anugerah atau musibah, serta beberapa kejadian “lucu” pada saat persiapannya, rupanya hari ini mencapai [...]

  79. Wina mengatakan:

    SOFYAN !
    kok anda mengatakan SDM Pustekkom rata-rata dibawah STD !
    atas dasar apa anda mengatakan demikian!
    janganlah anda meremehkan orang lain tanpa dasar, itu namanya SU’UDHON !

  80. sutansati mengatakan:

    Bung Khalid dan Bung Mubni

    Saya hanya ingin meluruskan sedikit saja untuk TVE. TVE diluncurkan oleh Mendiknas pada 12 Oktober 2004. Sejak saat itu TVE telah melakukan siaran ke seluruh Indonesia melalui satelit Palapa dari stasiun siarannya di Pustekkom, Ciputat. Agar siaran TVE ini dapat ditangkap oleh sekolah maka kepada sekolah-sekolah, utamanya SMP dan SD dibagikan parabola maupun pesawat televisi. Pada tahun 2006 ketika Pak Gatot masih menjadi Direktur Dikmenjur, dibangun beberapa stasiun relay di beberapa ICT Center yang umumnya berada di SMK. Pembangunan stasiun relay di SMK ini mendapat tentang dari berbagai fihak termasuk anggota Komisi X DPR karena bertentangan dengan UU Penyiaran. Karena itu sejak tahun 2007 tidak ada lagi pembangunan stasiun relay yang baru. Sebagai gantinya TVE bekerjasama dengan TVRI dan TV lokal serta TV Kabel di daerah-daerah. TVRI, TV Lokal dan TV Kabel inilah yang merelay siaran TVE sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak orang

    Jadi sebetulnya tidak ada pengalihan TVE dari Dikmenjur ke Pustekkom. Hal ini perlu saya sampaikan agar teman-teman mengetahui duduk persoalan sebenarnya sehingga tidak salah berkomentar.

  81. Asmuni mengatakan:

    WINA !
    Sampai saat ini pernahkah anda mendengar hasil karya pemikiran atau ide untuk kemajuan anak bangsa yang muncul dari rekan-rekan SDM Di Pustekom !
    Saling Mencerca hasil karya orang lain …. Mungkin !
    Mengambil “Kue rakyat” … Mungkin !
    Seperti “pendapat” pak Frans T., Indonesia bangga menjadi bangsa yang bodoh…..forever !
    Lihat saja kehancuran Indonesia….!

  82. Asmuni mengatakan:

    Hidup….. BPKLN…!
    Hidup …… Pak Gatot HP..!
    Hidup …… Pak Khalid..!
    Hidup …. Rekan-Rekan SDM BPKLN .. !
    Saya bangga…Andalah Pahlawan Pendidikan Indonesia Yang Sebenarnya di Zaman Keterpurukan saat ini…!
    Kami..akan selalu mendukung hasil karya Anda…!
    Indonesia Butuh SDM Seperti Anda yang tidak termasuk anggota “NATO” (Not Action Talk Only) yang saat ini sangat ramai menghiasi media elektronik Indonesia !

  83. sutansati mengatakan:

    Bung Asmuni dan kawan-kawan yang lain,

    Setahu saya orang Pustekkom bukan orang yang suka memamerkan apa yang telah mereka kerjakan. Banyak hal yang telah mereka lakukan, tapi tidak pernah menepuk dada menyebutkan jasa mereka. Malah banyak di antara mereka yang bertanya apakah karya yang mereka hasilkan sebanding dengan mandat yang mereka pegang. Mungkin sekali-sekali anda perlu datang ke Pustekkom dan melihat teman-teman di Pustekkom itu bekerja. Saya yakin setelah melihat mereka bekerja, anda tidak akan asal berkomentar yang menyakitkan hati mereka yang bekerja disana.

    Untuk Bung Khalid,

    Selamat berkarya di tempat yang baru. Seluruh rakyat Indonesia berharap anda masih mau membantu para pengelola Jardiknas yang baru memelihara Jardiknas agar tetap berjaya. Toh tempat anda yang baru tidak terlalu jauh dari Pustekkom.

    Jayalah Indonesia. Indonesia tidak kan pernah hancur jika bangsanya bersatu-padu bekerja demi bangsanya tanpa pamrih apapun.

  84. Wina mengatakan:

    Asmuni kayaknya buta atau tutup mata.
    Dulu ada ACI (serial TVRI) yang terkenal itu buatan PUSTEKKOM.
    Ada program audio untuk klas rangkap (ini program untuk daerah yang kekurangan guru)
    Ada VCD pembelajaran (termasuk yang diputar di TVE) dengan berbagai judul dan udah tersebar.
    Sekarang ada Edukasi.net.
    Semua itu karya PUSTEKKOM. anda mungkin ndak tahu karena anda pasti tinggal di kota besar. Tapi bagi saya yang hanya guru daerah sangat dibantu oleh pustekkom karena dipermudah dalam penyampaian materi ke anak didik saya. Dan sekarang di edukasi banyak fitur2 baru yang sangat mendukung saya!
    Jardiknas tanpa konten = omong kosong besar.
    Pustekkomlah rajanya konten pendidikan.
    Edukasi adalah web pendidikan terbaik versi majalah tempo!

    tahu sekarang? pak Asmuni yang budiman!

  85. Wina mengatakan:

    Satu lagi
    Perlu diketahui khalayak umum bahwa UT itu yang membidani adalah PUSTEKKOM. dan sekarang UT menjadi instansi yang begitu besar!

    Gimana pak Asmuni?

  86. khalidmustafa mengatakan:

    Ada info detail mengenai statement bahwa yang membidani lahirnya UT adalah Pustekkom ?

    Hasil searching di google hanya menyampaikan sejarah lahirnya Pustekkom:
    http://www.festivalvideoedukasi.com/profil_bpmtv.htm

    dan di website UT sendiri tidak ada informasi yang jelas tentang pernyataan tersebut.

    Ini link ke website UT:
    http://public.ut.ac.id/index.php?module=pagemaster&PAGE_user_op=view_page&PAGE_id=41&MMN_position=4:2

    Cukup bagus untuk menambah wawasan tuh klu infonya lebih lengkap :)

  87. abie mengatakan:

    SALAM…
    ANDA SUDAH PUAS PAK KHALID..???
    SETELAH TERJADI SALING CERCA DI BLOG ANDA..??
    SESAMA ORANG PENDIDIKAN DAN BERULANG KALI SAYA MENCERMATI BLO ANDA …
    SAYA KIRA DULU ANDA ORANG YANG CUKUP BIJAK..
    TERNYATA LEBIH BURUK DARI YANG SAYA SAMPAIKAN..
    TAPI..
    KALAO MENURUT SAYA MUNGKIN YANG TERJADIBISA DIMAKLUMI DENGAN ALASAN
    ‘ MAINAN ANDA YANG RATUSAN MILYAR ITU DIAMBIL ALIH SAMA PUSTEKKOM..’
    BEGITULAH DUNIA..
    UUD..
    UJUNG UJUNGNYA DUIT…
    SALAM..

  88. khalidmustafa mengatakan:

    hehehe…emang susah menyampaikan suatu hal hanya dari bahasa tulisan saja. Kadang “soul” atau jiwanya gak ikut terasa.

    Ngapain mikir ratusan milyar kalau semua itu bentuknya lelang dan dibayarin ke pengusaha ?
    Ngapain mikir jaringan yang sehari putus aja sudah ditelepon se-Indonesia ?

    Udahlah, silakan baca saja dan cermati. Kalau tidak suka silakan tutup dan gak usah baca.
    Kalau orang pendidikan, pasti bisa menggunakan akal sehat kok :D

    Saya gak lihat saling cerca disini. Yang ada adalah diskusi dan saling tukar data maupun pengalaman.
    Bangsa kita dari dulu terbiasa dengan “ABS” atau “asal bapak senang” dan belum terbiasa dengan keterbukaan.

    Inilah sarana untuk saling berdiskusi.

    Saya gak minta dianggap bijak, saya gak minta dianggap baik. Saya hanya berbuat yang terbaik menurut saya, dan meminta bimbingan serta hidayah dari yang Maha Baik dan Bijaksana :D
    Penilaian manusia itu relatif dan hanya sesuai dengan apa yang diinginkannya saja.

  89. sutansati mengatakan:

    Bung Khalid

    UT bukanlah satu-satunya. Banyak karya lain yang dulunya dirintis oleh Pustekkom yang tidak menyebutkan Pustekkom sebagai perintis ataupun penggagasnya.

    Kalau ingin tahu dokumen-dokumen tentang proses kelahiran UT Anda bisa datang ke Pustekkom atau bertanya kepada Prof. Yusufhadi Miarso, Kepala Pustekkom yang pertama atau Prof. Setiyadi, Rektor UT yang pertama. Beberapa orang Pustekkom yang senior mungkin masih ingat kalau anda betul-betul ingin tahu prosesnya.

    Cuma ingin sedikit berbagi

    Salam

  90. khalidmustafa mengatakan:

    @sutansati, makasih atas infonya. Komentar saya diatas cuman mau mencari berdasarkan search engine aja.

    Kapan2 saya cari info lebih detail kok :)

  91. Wina mengatakan:

    Saya tahu mas khalid orang IT yang selalu mencari apapun di search engine tapi perlu diketahui bahwa segala informasi itu tidak hanya ada di internet. banyak informasi yang ada di negara kita hanya ada di gudang arsip saja.
    Kalo saya bilang bapak saya ikut berjuang membela kemerdekaan apa anda ya akan membuktikanya dengan berdasarkan search engine!
    Wong pinter kok lucu

  92. Wina mengatakan:

    20 menit yang lalu saya penasaran terhadap tantangan pak Khalid untuk mencari bukti di internet tentang yang pernah saya sampaikan sebelumnya. Saya langsung tanya mbah gogle dengan keyword PUSTEKKOM. Setelah saya coba satu-satu saya malah semakin takjup dengan kiprah pustekkom untuk memajukan pendidikan di Indonesia, sayang teman-teman yang blog disini tidak tahu, tidak mau tahu atau tutp mata. MUNGKIN dasar penghinaan mereka hanyalah berdasar RASA SAKIT HATI karena merasa ada yang tercuri darinya.

  93. anggito mengatakan:

    Pak khalid, sebelum anda datang di Jakarta, program-program di bidang pemanfaatan ICT untuk pendidikan sudah banyak dikerjakan orang di beberapa instansi Depdiknas. Seamolec, tempat anda bekerja sekarang ini adalah hasil perjuangan panjang banyak orang, terutama orang2 Pustekkom. Sepertinya anda kok berusaha menghindar-hindar dari fakta itu. Rupanya anda ingin mempengaruhi komunitas anda bahwa andalah tokoh paling berjasa dalam perintisan jardiknas. Akan lebih bijak jika anda menempatkan diri sebagai orang yang harus banyak belajar tentang pemanfaatan ICT di Indonesia, termasuk belajar kepada para tokoh Pustekkom. Bukannya malah anda musuhi.

  94. wahyu mengatakan:

    Waduh……. waduh……………. gini aja kok dibesar-besarkan. Jangan melihat siapa yang menangani tapi lihat sepenuhnya APA JARDIKNAS ? Gak perlu membandingkan PKLN atau PUSTEKKOM.

    Tapi lihat bahwa JARDIKNAS itu untuk ANAK BANGSA, Bukan untuk pak KHALID atau pak KWARTA,

    Saya sebagai pendidik di daerah sangat kecewa melihat Opini-opini orang-orang di atas yang intinya “REBUTAN PROYEK” sekali lagi “REBUTAN PROYEK”,

  95. Wina mengatakan:

    Sori pak Wahyu saya tidak merasa rebutan proyek.
    Saya ndak dapat apa-apa disini. Ini sekedar diskusi, saya cuma guru daerah yang suka internet. Saya cuma mengomentari komentar-komentar atau bahkan tulisan pak Khalid yang tendensius. Atau komentar-komentar yang menghina tanpa bukti yang kuat.

    Tapi sekarang mungkin pak Khalid sedang kena batunya he.. he… he…
    Beliau melemparkan tulisan bernada menghina Pustekkom tetapi sekarang kerjanya berdekatan dengan PUSTEKKOM. Jangan jangan nanti kalo Pak gatot pindah ke pustekkom pak Khalid juga ikut ha… ha… ha….

    Selamat menikmati suasana kerja baru pak Khalid ha… ha… ha….
    Mumpung ada di SEAMOLEC cari data sebanyak-banyaknya tentang PUSTEKKOM.
    Semoga mendapat jalan terang tentang Pustekkom ha… ha… ha….

  96. khalidmustafa mengatakan:

    @wina, saya gak merasa kena batunya tuh. Kalau masalah dekat emang apa hubungannya ? Lha wong beda tupoksi. Kalau masalah pindah memindah, seperti biasa, sebagai PNS ya harus siap dimana saja.

    Pustekkom ? Silakan jalan dengan tupoksi sendiri aja. Mudah-mudahan bisa lebih bergema di masyarakat. Btw, webnya segera dionlinekan tuh…agar ada info resmi via ICT juga ke masyarakat.

  97. Febry H.J. Dien mengatakan:

    Yth. Pak Khalid,
    Saya selalu salut dan ingin punya kesempatan berpartisipasi secara aktif seperti Pak Khalid dan rekan-rekan, profesional, rela berkorban, punya visi yang jauh ke depan. Namun dari sekian banyak dampak positif yang ditimbulkan oleh “komunitas IT Depdiknas” ini, hal yang menjadi miris bagi saya dan rekan-rekan “pemula” dalam komunitas ini, yang masuk sesekali ke milist, ke komunitas IT Depdiknas, adalah etika yang terkesan diabaikan hanya karena eksklusifitas “komunitas” ini.
    Saya sebenarnya hanya ingin agar Jardiknas ini tetap berjalan, berkembang dan berhasil mencapai cita-cita luhur dan tujuannya, yang di luar ekspektasi saya adalah saling hujat yang berlebihan melalui milist,blog, dll sementara jalur birokrasi yang ada sama sekali tidak relevan dengan cara-cara ini, jadinya percuma.
    Pak khalid dkk yang lebih tahu “isi jeroan” Jardiknas, mohon bijaksana menanggapi permasalahan ini dengan “ikut serta” mencari solusi yang terbaik lewat cara-cara yang elegan, yang lebih komprehensif, secara birokratis dan lebih formal (karena lewat cara ini pengelolaan Jardiknas berpindah, bukan karena proses diskusi di milist)
    Jangan biarkan kami-kami ini terlibat lebih jauh dalam proses peng”dikotomi’an Jardiknas, saling cerca melalui milist, padahal kita sama-sama “concern” tentang Jardiknas ini.
    Mohon maaf, agak menuntut, namun ini sekedar juga opini saya yang ingin saya sampaikan secara langsung kepada Pak Khalid, Terima kasih.
    Salam IT,
    Febry H.J. Dien
    ICT LPMP Sulawesi Utara

  98. khalidmustafa mengatakan:

    Pak Febry, seandainya bapak melihat sendiri kondisi di Jakarta, mungkin Bapak hanya akan mengurut dada.

    Mau secara birokratis ? Formal ? Saya sudah masuk tahapan tidak percaya dengan cara-cara itu…

    Apakah pak Febry di LPMP mengalami sendiri permasalahan dapat diselesaikan dengan surat menyurat resmi ?

    Milis adalah media menyuarakan perasaan dan keinginan, juga merupakan media untuk berkomunikasi.
    Justru dengan hal itu maka keterbukaan akan terlihat. Juga tuntutan teman-teman yang lain sederhana, agar dapat BERKOMUNIKASI saja.

    Kalau Pak Febry merasakan menjadi mereka, yang ditelepon setiap jam, dimaki dan dicaci karena koneksi putus atau bermasalah, sedangkan penanggung jawab program tidak dapat dihubungi atau malah diam seribu bahasa, maka bapak akan mengetahui mengapa mereka sampai seperti itu…
    Sekali-sekali, cobalah berkaca menjadi orang lain…coba ganti kacamata Bapak dengan kacamata orang lain, moga-moga pemahaman segera merasuk ke Bapak.

    Kalau tidak mau terlibat diskusi di milis, tinggal unsubscribe kok…

    Maaf, kali ini saya tidak terlalu banyak berkompromi. Karena masa-masa kompromi sudah lewat jauh, dan sudah dicoba berkali-kali…
    Sekarang, silakan jalan saja dengan tupoksi masing-masing. Biar masyarakat saja yang menilai kondisinya. Mereka sudah pintar untuk menilai kondisi saat ini kok.

  99. [...] http://khalidmustaf a.wordpress. com/2008/ 01/05/pemindahan -jardiknas- dari-biro- pkln-ke-pustekko … [...]

  100. nasirdbjpr mengatakan:

    [...]Membaca antusiame para blogger yang mampir ke blog saya, kiranya perlu untuk saya menambahkan beberapa link yang berkaitan erat dengan kronologis Berdiri sampai dengan Matinya jardiknas, semoga ini dapat membantu memberikan pencerahan detik-demi detik proses yang terjadi, berikut linknya ;

    Situs resmi jardiknas

    http://jardiknas.diknas.go.id/

    Blog Halid Mustafa :

    http://khalidmustaf a.wordpress. com/2008/ 01/05/pemindahan -jardiknas- dari-biro- pkln-ke-pustekko m-anugrah- atau-musibah

    semoga membantu informasi yg ada. [...]

  101. [...] Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom [...]

  102. ontorejo kudus mengatakan:

    yang pas itu di taruh di Balitbang aja Jardiknas…
    sejalan dengan program padatiweb

  103. Maya mengatakan:

    Kami berharap dengan diambil alihnya jardiknas oleh pustekom, tidak mengalami kemunduran. Tapi apabila Pustekom tidak mengelola dengan baik alias tidak bertambah maju. tunggulah kehancurannya. Jadi terbukti otak siapa yang hebat. Bravo Pak Gatot.

  104. fikri mengatakan:

    salam semua, Bapak, Ibu, Mas, Mbak, Mbah, pokoknya semua yang peduli dengan NKRI ini,

    sepertinya negara yang katanya sebagai ZAMRUD KHATULISTIWA ini mungkin tidak hanya sekedar membutuhkan reformasi, tapi (ma’af) mungkin sudah membutuhkan yang berbentuk RxxxxxxI,

    sudah rahasia umum, praktik-praktik maupun program-program yang dilaksanakan hanya sebatas proyek sebagai kedok untuk meraup keuntungan pribadi dan golongan semata. hasil dan sasaran yang diinginkan tidak pernah dievaluasi setelah semua program-program yang tak karuan itu dilaksanakan.

    sepertinya sudah seluruh lini dicemari praktik seperti ini, mungkin saja apa yang diperkirakan tahun 2015 itu terjadi.

  105. Syamsul Arifin, SPd mengatakan:

    Mudah-mudah lebih bermanfaat bagi pengembangan sumber daya manusia.
    Kepada Bapak Kepala Pustekkom. Kami guru Matematika dan TIK di SMA Negeri I Wringinanom Gresik, sangat berharap dapat mengikuti diklat – diklat yang diadakan oleh pustekkom. Mohon agar bila ada diklat fungsional kami diikut sertakan. Terima kasih

  106. Berkat hanapi mengatakan:

    Agar pustekom membuat Wen yang mudah diakses, dan programnya yang jelas, misal : diklatnya, dananya pesertanya, coba transparan sedikit dong, masa panitianya semuanya orang-orang pustekompropinsi gak melibatkan orang kabupaten, sekolah hanya tempat menumpang saja. erima kasih

  107. Wina mengatakan:

    Berita terakhir yang saya dengar Pak gatot pindah ke Pustekkom…

    Hidup Pak Gatot!
    Hidup Jardiknas!
    Hidup Pustekkom!
    Jayalah pendidikan di Indonesia!

  108. khalidmustafa mengatakan:

    @Wina, segera setelah dapat info ini, saya bertanya langsung ke Pak Gatot. Dan beliau langsung menjawab “wah, saya tidak tahu tentang itu, isu lagi tuh lid” :D

    Tapi, seperti yang saya ucapkan diatas, kami semua adalah PNS, yang harus siap ditempatkan dimana saja, dan bekerja sebaik mungkin dimana saja :)

    Makasih atas semua dukungannya.

  109. Arga Munggaran mengatakan:

    Ya mudah – mudahan aja Paka Gatot & kawan2 benar – benar dialih tugaskan ke PUSTEKOM, jadi Jardikans akan semakin maju. Ok!

  110. wah, mas khalid,.. sebenarnya dan sejujurnya… ini suatu bencana besar… hampir disetiap Kabupaten/kota semenjak BPKLN meninggalkan Jardiknas dan pergantian mas gatot ke Situs Asean Network..

    terasa sampai ke kabupaten kami yang jauh dari Info Hitech.., untung-untung dengan pengadaan infrastruktur oleh Depdiknas sehingga kami merasa tidak ditinggalkan oleh bangsa kami sendiri lewat media ini atau program kami… kami berada di perabatasan dan dijuluki sebagai kawasan tertinggal yaitu Kabupaten maluku tenggara barat. kami sudah mengusulkan berbagai program dari tahun 2006 hingga 2008 ini, mas khalid susah yach kalu menghadapi pimpinan yang GAPTEK nggak bisa ambil suatu kebijakan mendukung ini, seharusnya saya usulkan lah Jardiknas ini diUU oleh Presiden sehingga terasa sampai ke desa oleh perangkat-perangkat pemerintah sehingga mau tidak mau mereka harus menghadapi dan menjalankan program ini sehingga berkelanjutan.

    dan ditambah lagi pergantian… sama persoalan persoalan yang rekan-rekan pendamping ICT Kab/Kota diseluruh indonesia merasa resah apakh ini akan berjalan atau tidak…. andityaman2007@yahoo.ci.id

  111. ernesfalikres mengatakan:

    mas khalid,.. bisa nggak komentar saya punya webblog… http://ernesfalikres.wordpress.com… via email aja. andityaman2007@yahoo.co.id atau ernesfalikres@yahoo.com.
    thanks atas perhatian…

    Salam dari ERnes

  112. ernesfalikres mengatakan:

    Mas,… usul aja mas… bisa nggak di UU atau PP atau apakah sehingga didaerah mau tidak mau harus menjalankan khusus Pengambil Policy…
    :))

  113. nggak ada komentar cuman, ucapin selamat lebaran mohon maaf lahir dan batin sekeluarga…
    dari Saumlaki Kabupaten Maluku Tenggara barat.

  114. angga mengatakan:

    Sebenarnya kekawatiran tentang kekacauan ini sudah lama diprediksi. Tapi ya apa mau dikata kalo si pihak PUSTEKKOM sendiri ngotot. Kita para pengguna JARDIKNAS merasa dirugikan dengan pemindahan kekuasaan ini..TANYA KENAPA?

    Gak usah jauh-jauh, ditempat saya dulu Tracing ke yahoo aja lancar, dengan grafik mrtg flat tanpa naik turun. Untuk bandwidth kita dikasih jatah 2Mbps. Tapi sekarang? 1Mbps aja gak ada, sering gak stabil antara 200Kbps – 500Kbps. Dipakai buat download file yang kecil < 1MB aja sering putus. Gimana ini? Routingnya jadi kacau. Pernah saya telp ke salah satu tim PUSTEKKOM, tapi jawaban tidak memuaskan dan terkesan atos (keras kepala) dan menyalahkan pihak TELKOM yg katanya jalur FO bermasalah. Kalo memang bermasalah kenapa dulu lancar2 aja???

    Berikut ini saya tampilkan contoh tracing ke yahoo :

    5 ms 4 ms 3 ms 118.98.134.21
    15 ms 17 ms 16 ms 118.98.132.34
    * * * Request timed out.
    71 ms * * 61.5.118.193
    102 ms * 74 ms ppp-rungkut-b.telkom.net.id [61.5.119.118]
    * 69 ms 111 ms 203.208.190.121
    * * 82 ms ae0-100.sngtp-dr1.ix.singtel.com [203.208.183.194]
    73 ms * 71 ms xe-1-0-0-0.sngtp-cr2.ix.singtel.com [203.208.183.65]
    * 276 ms 286 ms so-2-0-3-0.plapx-cr3.ix.singtel.com [203.208.149.58]
    276 ms * 297 ms ge-7-0-0-0.plapx-dr2.ix.singtel.com [203.208.183.182]
    * * * Request timed out.
    280 ms * 296 ms ae1-p150.msr2.sp1.yahoo.com [216.115.107.77]
    273 ms * * te-9-1.bas-a2.sp1.yahoo.com [209.131.32.23]
    * * * Request timed out.
    269 ms 272 ms * w2.rc.vip.sp1.yahoo.com [68.180.206.184]
    * 269 ms 274 ms w2.rc.vip.sp1.yahoo.com [68.180.206.184]

    Berikut Ping ke yahoo :

    Pinging yahoo.com [68.180.206.184] with 32 bytes of data:

    Request timed out.
    Request timed out.
    Request timed out.
    Reply from 68.180.206.184: bytes=32 time=269ms TTL=47

    Masa dari 4 paket data yang dikirim, 3 lost? Ini gimana?
    Banyak content content web yang isinya menghujad PUSTEKKOM. ADA APA DENGAN PUSTEKKOM? Sebenarnya bisa gak tim yang sekarang ini menangani jalur JARDIKNAS??? Gimana nasib dunia pendidikan kalo caranya seperti ini??

  115. Bagaima Beritanya mengatakan:

    Apakah ini masih dibaca dan tetap memantau perkembangan terakhir?

    Selingan, mampir dahulu ke sini:
    http://groups.yahoo.com/group/Rektor_Universitas-Terbuka_2009-2013/

    silahkan dibagi informasinya, mulai dari:
    pustekom;
    seamolec;
    jardiknas;
    universitas terbuka;
    tv e;
    prof setiyadi;
    prof atwi superman;
    dan lain lain de el el
    terimakasih

  116. [...] dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini “Pemindahan Jardiknas” (termasuk saran-sarannya…. Memang itu sulit untuk “berpikir [...]

  117. [...] dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini “Pemindahan Jardiknas” (termasuk saran-sarannya…. Memang itu sulit untuk “berpikir [...]

  118. [...] dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini “Pemindahan Jardiknas” (termasuk saran-sarannya…. Memang itu sulit untuk “berpikir [...]

  119. http://bing.com mengatakan:

    Thank you for applying time in order to create “Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau
    musibah Khalidmustafas Weblog”. Thanks a ton yet again
    ,Jack

  120. promotion mengatakan:

    Hi there to every single one, it’s in fact a good for me to visit this web site, it includes important Information.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: